Kencan buta #1: Riset S1 (UGM 1994); produksi biodiesel dari minyak jarak

Saya betul-betul hanya bermodal nekad pada kencan pertama ini. Sasaran pertama saya adalah ilmu yang disebut kinetika reaksi. Ini adalah ilmu teknik kimia yang mempelajari bagaimana bertemunya senyawa-senyawa kimia, apa yang mereka lakukan setelah pertemuan itu, seberapa cepat dan efisien mereka melakukannya, serta apa hasilnya dari ulah mereka tersebut. Ilmu ini juga mempelajari berbagai tipu daya dan akal bulus yang bisa kita lakukan agar perilaku senyawa-senyawa tersebut selaras dengan apa yang kita inginkan. Sebetulnya ilmu ini termasuk sudah setengah baya dalam khasanah pengetahuan teknik kimia, tapi ibarat Sean Connery, makin berumur justru makin menarik. Klasik tapi eksotik.

Seperti banyak dipercaya orang, memang betul bahwa pengalaman pertama selalu paling berkesan, entah itu kesan buruk atau kesan baik. Pengalaman pertama saya melakukan pendekatan dengan kinetika ini mengajarkan hal-hal primitif yang paling mendasar untuk seorang pemula, yaitu tiga syarat utama agar sasaran dapat ditaklukkan tanpa perlawanan berarti: 1. Kenali sasaranmu, 2. Persiapkan dirimu dengan senjata yang sesuai, 3. Pastikan tersedia dukungan dana yang cukup.

Terus-terang, dalam pengalaman pertama ini saya salah sasaran. Sebagai seorang pemula, seharusnya saya memilih sasaran yang sudah saya kenal baik. Saya justru memilih sasaran yang begitu asingnya, sampai-sampai saya adalah satu-satunya mahasiswa waktu itu yang mau-maunya memilih Lab Proses Kimia dengan sukarela. Ini bukan karena saya begitu ambisiusnya. Saya justru masih sangat hijau dan lugu. Alasan saya cuma karena saya malas ikut prosedur undian dsb, sehingga saya pilih lab yang paling sepi saja agar saya langsung bisa masuk tanpa repot-repot lagi. Tapi ternyata repotnya datang belakangan, saat saya mulai berkenalan dengan si target. Pertama berkenalan dengan baunya. Kemudian dengan bahaya-bahayanya, baik yang laten maupun yang terang-terangan. Lalu dengan jam-jam lemburnya. Setelah itu dengan mimpi buruk yang disebut ‘data jelek’. Pendek kata, masuknya mudah, keluarnya susah payah. Saat teman-teman saya yang lebih pandai memilih sasaran itu sudah selesai dengan riset mereka dan bahkan sudah seminar, saya masih berkubang minyak jarak dalam riset saya.

Tapi setelah saya observasi, saya kesulitan menangani sasaran saya itu bukan karena dia yang terlalu sulit, tapi karena saya yang belum punya pengalaman. Saya belum punya panduan ‘1001 teknik rayuan gombal yang tak pernah gagal’ sehingga semuanya coba-coba dan gagal-gagal. Akhirnya saya berguru pada senior saya, bagaimana cara menanggulangi ulah sasaran saya itu (jangan tanya apakah saya perlu merayu si senior dulu agar dia bersedia berbagi pengalamannya dengan saya). Dia memberi tahu referensi-referensi yang perlu saya baca, berbagi trik-trik mencegah terjadinya kejutan-kejutan tak menyenangkan, dsb. Ternyata memang sangat penting untuk punya mentor yang baik, jika kita baru memulai sesuatu. Belajar dari pengalaman orang lain, seringkali lebih bijaksana (dan efisien waktu) daripada harus mengalami sendiri.

Pada saat itu, tidak banyak dosen yang memiliki projek riset untuk mahasiswa S1 dan mungkin saya tidak dipandang cukup kompeten untuk direkrut dalam riset-riset yang dibiayai dosen. Jadi penyandang dana untuk sepak terjang saya ini adalah orang tua saya. Saya akui, saya ceroboh dengan barang pecah-belah, terutama jika saya grogi. Dengan kesulitan saya mengenali sasaran saya, sudah pasti saya sangat salah tingkah menghadapinya di lab, dan akibatnya, tagihan untuk mengganti alat pecah/rusak cukup panjang daftarnya. Sudah pasti orang tua saya sangat tidak senang dan saya mengalami pemotongan uang saku bulanan, sampai berbulan-bulan setelah selesai riset.

Bisa dibilang, kencan pertama ini bukan pengalaman menyenangkan untuk saya. Walaupun demikian, anehnya, awal berantakan ini malah membuat saya penasaran ingin melakukannya lagi, terutama karena saya ingin tahu bagaimana rasanya kalau lain kali saya lakukan semuanya dengan benar dari awal. Begitu tangan saya mulai terlatih bekerja dengan mainan pecah-belah dan bahan-bahan kimia di lab, saya yakin sekali bahwa kelak saya akan berkarir di jalur ilmu pengetahuan (walaupun orang tua saya menganjurkan untuk ‘memikirkan alternatif-alternatif profesi yang lain’, mengingat pengalaman buruk mereka dengan tagihan dari lab saya).

Iklan

3 Tanggapan to “Kencan buta #1: Riset S1 (UGM 1994); produksi biodiesel dari minyak jarak”

  1. ga bisa di share ya???

    • Hahaha … itu hanya riset S1 yang sangat sederhana. Banyak publikasi lebih top tentang biodiesel, bisa di-search di berbagai search engine.

  2. wah,, jangan-jangan salah satu mentornya adalah Mr Budiyanto. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: