Kencan buta #3: Disertasi S3 (WVU 2000-2004); analisis rheologi pada fluidisasi serbuk

Saya sudah mencapai taraf yang lebih baik pada kencan buta yang ketiga ini, baik dalam hal jumlah dukungan finansial yang saya peroleh maupun dalam hal kematangan sebagai peneliti. Dua kencan buta di dalam negeri sudah cukup memberikan banyak alasan bagi saya untuk bertekad memperluas wilayah jajahan ke luar negeri. Jadi, saya pergi ke West Virginia University USA untuk mencari sasaran yang lebih menantang.

Dengan dua titel akademik yang sudah saya raih pada saat itu, saya merasa sudah sangat menguasai segala trik rayuan gombal untuk menaklukkan ilmu pengetahuan. Tapi di WVU, segera saya menyadari bahwa level saya bahkan masih di bawah ‘peneliti yang biasa-biasa saja’. Dalam pengalaman-pengalaman sebelumnya, saya selalu berdiri di atas landasan kuat ilmu teknik kimia yang sudah begitu matang. Kencan buta yang ketiga ini menempatkan saya dalam situasi berbahaya di wilayah yang belum banyak dijelajahi orang. Sudut pandang yang berbeda akan memberikan kesimpulan yang berbeda pula. Makin banyak paper yang saya baca, bukannya saya jadi mengerti, tapi malah jadi terjerat di tengah-tengah kontradiksi.

Target saya kali ini disebut ‘sistem partikulat’, yaitu kombinasi tak terpisahkan dari serbuk dan gas atau cairan. Kombinasi dengan cairan lebih mudah diprediksi perilakunya. Saya memang punya penyakit kronis untuk selalu memilih jalan yang sulit, jadi bisa ditebak, saya justru memilih kombinasi serbuk dan gas sebagai sasaran saya. Bedanya sekarang saya memilih ‘kesulitan’ ini dengan kesadaran penuh yang sangat ambisius, bukan karena saya tidak berpikir panjang (PS: baca kencan buta #1). Kesulitan utama yang saya hadapi dengan pacar kali ini adalah karena dia plin-plan, dalam rentang kondisi yang berbeda, perilakunya berubah juga. Koleksi tips and tricks yang selalu sukses saya gunakan sebelumnya, sama sekali tidak ada gunanya. Pada kondisi tertentu, pacar saya itu berperilaku normal sebagai individu, tapi pada kondisi yang lain, tiba-tiba muncul kepribadian-kepribadian yang lain. Ya betul, dia psikopat.

Berbeda dengan kencan sebelumnya, di mana syarat-syaratnya masih primitif, target saya kali ini memerlukan pendekatan yang lebih canggih.  Saya tidak bisa lagi bergantung pada trik-trik orang lain. Saya harus berimajinasi sendiri untuk merumuskan trik-trik baru, trik saya. Tanpa trik original yang saya hasilkan, PhD saya bukan ‘doctor of philosophy’ tapi ‘Permanent head Damage’.

Saya tidak memecahkan apa pun di lab kali ini. Tetapi lebih gawatnya, saya hampir mematahkan semangat saya sendiri setelah beberapa bulan berlalu tanpa ada ide cemerlang muncul. Saya sampai membaca buku tentang bagaimana cara mengaktifkan alam pikiran bawah sadar untuk memunculkan ide-ide kreatif. Cuma ke dukun saja yang tidak saya coba, karena saya tidak percaya pada dukun amerika sementara dukun-dukun di Indonesia belum tersambung ke internet waktu itu. Sisi positif dari huru-hara ini adalah berat badan saya turun banyak sampai-sampai saat mempertahankan disertasi saya selama 3 jam di depan komite penguji, saya bisa tampil mempesona dalam baju chic berwarna burgundy dengan ukuran petite S (untuk standar amerika). Cara mengesankan untuk mengakhiri sebuah kencan dan berpindah ke lain hati (ya, saya memang kejam). Pacar saya ini memberi saya gelar akademik tertinggi, tapi saya tidak betul-betul bernafsu pada dia. Daripada saling menyakiti di kemudian hari, kami berpisah baik-baik, dengan janji bahwa saya masih akan sesekali mengunjunginya (kalau saya ada perlu saja).

Iklan

2 Tanggapan to “Kencan buta #3: Disertasi S3 (WVU 2000-2004); analisis rheologi pada fluidisasi serbuk”

  1. Mbak Wiratni, saya tertarik dengan tulisan di atas. Bisa diceritakan lebih rinci bagaimana menemukan ide atau trik originalnya….. Saya sekarang sedang berada dalam kondisi yang sama, dituntut untuk menemukan ide orisinil.. tapi ya itu… belum muncul-muncul…. Terima kasih sharingnya…

    • Wah sulit kalau ditanya trik-nya. Mungkin yang paling penting adalah open mind. Banyak membaca dengan pikiran yang terbuka, tidak terlalu ‘preoccupied’ oleh prior knowledge. Seringkali dalam pengalaman pribadi saya, prior knowledge memang kita perlukan untuk membangun analisis yang sistematis, tapi kadang-kadang malah membuat kita tidak bisa berpikir ‘out of the box’. Kalau kita diskusinya hanya dengan orang2 yang prior knowledge-nya sama dengan kita, seringkali jadinya ide2 yang muncul hanya ide2 ‘recycle’ saja, reinventing the wheel 🙂 tapi kalau teman diskusi kita sangat luas spektrumnya, maka ide2 orisinal itu malah bisa muncul tiba-tiba di saat-saat yang tidak terduga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: