RUJAK (menyegarkan dalam segala cuaca)

Perfect harmony (picture: courtesy of Daniel Tanto, Loekisan Tjahaja Photography)

Saya harus mengakui bahwa ‘penemu’ resep rujak adalah seorang yang jenius. Berkat jasa si inventor anonim ini, sekarang kreativitas kita dalam membuat dan menikmati rujak betul-betul tak ada batasnya. Berbagai jenis kombinasi buah-buahan, yang manis, yang masam, yang keras, yang lunak, yang lokal, yang impor, dan sebagainya selalu terasa berbaur harmonis dalam kombinasi pedas, manis, dan masam bumbu rujak. Saus yang ringan dan ramai rasanya ini mempersatukan berbagai macam buah dalam satu komposisi sempurna, tapi masing-masing buah masih terasa karakter aslinya. Mau dimakan begitu saja sudah enak, mau ditambah es puter juga lebih enak lagi, walaupun saya paling suka makan rujak saya dengan krupuk sermiyer (jangan ditiru karena krupuk ini tidak sehat).

Di saat seluruh elemen dalam hidup saya sepertinya berkomplot melawan saya, rujak adalah penyejuk suasana yang bisa membuat saya berpikir jernih dan bersemangat kembali. Rujak adalah comfort food saya. Makanan yang selalu bisa menghibur saya dalam berbagai cuaca. Kadang-kadang jengkel juga kalau rujak yang saya makan terlalu pedas, kurang manis, masih ada bongkahan trasi yang tidak ter-ulek, dsb. Tapi biasanya hal ini terjadi (dan tidak sering sebetulnya) jika saya hanya ‘terima jadi’, entah beli, entah diberi. Jika saya membuat sendiri rujak saya, saya akan sangat berhati-hati meramu semua bahan untuk menghasilkan produk rujak yang sedekat mungkin dengan kesempurnaan.

Saya tidak terlalu peduli dengan kualitas buah-buahan bahan baku rujak saya. Biasanya justru saya lebih termotivasi membuat rujak jika ada buah-buahan yang sudah mendekati kadaluwarsa sehingga tidak lagi sempurna untuk dimakan begitu saja. Kalau saya punya buah-buahan yang sudah demikian sempurnanya, maka saya tidak perlu ‘merusak’ kesempurnaan itu dengan memotong-motong dan mengulek-ulek. Cuma perlu dibasuh dan disajikan dalam wadah yang cantik saja untuk lebih memancing selera. Semakin tidak sempurna buah-buahan bahan baku rujak saya, maka saya semakin tertantang untuk bisa membuat rujak yang begitu saya hidangkan akan segera habis ‘disikat’ orang. Converting imperfection into perfection adalah hal yang betul-betul membuat saya puas. Kalau bahan baku sudah sempurna, buat saya pribadi, apa pun yang saya lakukan tidak terlalu ada artinya. Saya tidak bisa merasa puas pada produknya karena itu seperti claiming perfection of itself to be mine. Sangat tidak pada tempatnya.

Uniknya, setelah semua kerepotan saya meramu rujak saya itu, di akhir cerita, biasanya orang lain yang menikmati hasilnya. Paling-paling saya hanya kebagian 1-2 porsi saja. Heran juga, berita saya membuat rujak bisa menyebar dengan cepat, “Jare kowe nggawe rujak? Isih ora? Tak ndhana ya, aja dientekke lho”. Saya betul-betul ikhlas karena ternyata kepuasan melihat orang-orang menikmati rujak saya itu jauh lebih fulfilling daripada keasyikan saya makan sendiri.

Pokoknya ramai rasanya (picture courtesy of Daniel Tanto, Loekisan Tjahaja Photography)

Mahasiswa-mahasiswa saya, adalah ‘rujak’ saya dalam kehidupan profesional saya sebagai dosen. Mereka datang dari berbagai latar belakang, masing-masing dengan karakter uniknya, semuanya menyimpan definisi yang berbeda-beda pula tentang masa depan yang mereka inginkan. Saya tidak pernah bisa menjanjikan masa depan dalam bentuk apa pun. Yang bisa saya lakukan hanya menunjukkan pintu-pintu kemungkinan dan memberikan mereka survival tools semaksimal yang saya bisa. Begitu mereka memilih pintu mereka, maka itu sudah jadi jalan hidup mereka sendiri dan saya akan selalu tinggal di belakang, dalam suatu masa yang makin jauh dari mereka. Salah satu kebahagiaan terbesar saya adalah jika kadang-kadang mereka masih melongok ke belakang di gawangan pintu dan berseru, “Hey Bu, thanks!” Hal semacam itulah yang membuat saya merasa tidak salah memilih profesi. Buat saya, mahasiswa-mahasiswa saya itu adalah ekstensi dari cita-cita saya ke masa depan, jauh di depan masa yang telah ditakdirkan untuk saya.

Iklan

4 Tanggapan to “RUJAK (menyegarkan dalam segala cuaca)”

  1. Assalamualaikum, Bu Wiratni..perkenalkan, saya laras, mahasiswa tekkim angktn 2011. Bisa dibilang, sy rutin membaca postingan Ibu dlm blog ini, dan jujur, sy menjadi semakin termotivasi dan kagum pada sosok seorang dosen 🙂 . Kalau boleh, sy ingin bertanya, Bu, bgmn cara seorang dosen yg hebat seperti Bu Wiratni ini belajar sewaktu masih menjadi mahasiswi, Bu? , karena sy ingin sekali menjadi dosen suatu saat nanti.. 🙂 .trmksh Bu

    • @ Laras: wah sebetulnya saya tidak ada hebat2nya … semua yang saya tulis di sini kan bukan karya saya seorang diri, tapi ada orang-orang lain yang hebat2 yang bekerja bersama saya. Kalau ditanya soal “cara belajar” atau “resep sukses”, satu2nya saran umum adalah: lakukan segala sesuatu dengan “passion”. Selama kita mengerjakan sesuatu hanya karena perasaan “kewajiban”, kita tidak akan pernah merasa sukses 🙂 Tapi begitu ada “passion” maka rasanya seluruh alam semesta membantu kita 🙂

  2. oo..jadi begitu to, Bu..dimengerti.
    terimakasih, Bu Wiratni, akan sy coba saran fari Ibu 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: