ChAIN Center: get real with science

Kantor ChAIN Center: sebuah visi dari kantor yang bahkan tidak punya jendela

Waktu itu saya baru saja kembali dari sekolah S3 saya. Empat tahun penuh, dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2004, saya berada di USA dan sama sekali tidak pernah pulang ke Yogya.  Terus-terang saya tidak punya uang untuk bolak-balik USA-Indonesia. Banyak sekali hal yang berubah di Yogya. Saya ternganga keheranan sepanjang jalan dari airport sampai rumah. Jalanan semakin padat dengan kendaraan bermotor, mall-mall baru bermunculan, cara orang berpakaian di muka publik jauh lebih ‘berani’, makin banyak buah impor, lebih banyak pengemis di perempatan, di beberapa traffic light pengamennya bencong-bencong yang jauh lebih cantik daripada saya, dsb. Padahal, saya ‘hanya’ pergi empat tahun. Betapa cepatnya warga Yogya mengikuti ‘gaya hidup modern’, dalam interpretasi masing-masing.

Walaupun demikian, setelah beberapa minggu saya beredar kembali di habitat asli saya itu, saya mulai melihat bahwa banyak juga hal yang tidak berubah, masih sama seperti sebelum saya pergi dan bahkan jaman sebelumnya juga. Daftarnya bisa panjang sekali, tapi bisa diringkas dalam satu kesimpulan: bangsa ini ‘belum merdeka’. Kita masih sangat banyak bergantung pada negara lain. Rasanya saya tidak perlu menguraikan panjang lebar soal ini. Perhatikan saja apa yang kita makan sehari-hari sebagai contoh sederhana. Misalnya, garam saja kita perlu impor. Bayangkan, negara kepulauan terbesar di dunia perlu mengimpor garam! Seberapa sulitnya membuat garam? Kita ini betul-betul bangsa yang ‘jalan (atau malah jongkok?) di tempat’.

Belajar mendengarkan masyarakat (Sarasehan Samigaluh, 2008)

Sudah pasti saya bukan satu-satunya orang yang melihat, berkomentar, berdiskusi, dsb. tentang ironi-ironi bangsa kita ini. Sampai tiba suatu hari di mana beberapa dosen Jurusan Teknik Kimia FT UGM berkumpul dan memutuskan untuk ‘bertindak’. Hari itu Pak Agus (Dr. Agus Prasetya), Pak Rozi (Dr. Moh. Fahrurrozi), Bu Siti (Dr. Siti Syamsiah), dan saya (you know who) berkumpul di ruang kuliah MTPPL untuk membahas apa yang bisa dilakukan teknik kimia untuk masa depan bangsa (memang, muluk banget). Hadir juga Prof. Suryo Purwono, Ketua Jurusan kami. Mungkin beliau agak khawatir dengan pertemuan empat orang yang masing-masing punya ‘reputasi unik’ ini sehingga siap sedia di tempat kalau-kalau diperlukan wasit untuk melerai perkelahian 🙂 Tapi tidak terjadi hal-hal yang membuat kami jadi headline koran lokal. Yang ada waktu itu kami makan gudeg bersama sambil ngobrol dan bercanda seperti biasanya. Hanya saja ada sedikit yang beda, kali ini kami menghasilkan ide riil untuk dituangkan dalam proposal. Proposal itu dipresentasikan dalam Rapat Jurusan, yaitu pemegang kekuasaan tertinggi di Jurusan Teknik Kimia, dan setelah diperkaya dengan berbagai masukan dan komentar dari dosen-dosen yang lain, maka jadilah proposal Jurusan Teknik Kimia untuk berkontribusi pada Indonesia. Singkat cerita, mungkin karena maksud baik selalu diridlai Allah, proposal Jurusan Teknik Kimia itu berhasil mendapat dana Rp. 1.5 M per tahun selama 3 tahun.

Dr. Fahrurrozi bicara tentang heat transfer efficiency dan safety, dalam bahasa Jawa, di pabrik tahu (Samigaluh 2008)

Yang diusulkan Jurusan Teknik Kimia dalam proposal itu adalah membentuk unit khusus untuk bertindak sebagai ‘penerjemah’ ilmu teknik kimia yang ajaib itu untuk masyarakat awam dan menggandeng ilmu-ilmu lain sehingga solusi yang dihasilkan bersifat komprehensif. Karena lebih dari 60% penduduk Indonesia ada di desa-desa, maka ‘penerjemahan’ itu diprioritaskan untuk pedesaan, dengan tujuan ‘sederhana’: membantu masyarakat di desa itu untuk membangun kemandirian di desanya, dalam berbagai aspek. Kalau masing-masing desa bisa mencapai kemandirian, maka paling tidak suatu hari Indonesia akan ‘60% mandiri’ (yang 40% di kota-kota itu lebih sulit dikendalikan).

Bentuk ‘penerjemahan sains’ untuk pedesaan ini bisa macam-macam bentuknya. Bisa sekedar membukakan horizon baru ‘mengapa begini mengapa begitu’ untuk memancing kreativitas masyarakat, bisa pula membantu menuangkan ide-ide masyarakat dalam rancangan engineering, sampai sebuah angan-angan betul-betul menjadi kenyataan (= profit). Apakah ide kami ini betul-betul sesuatu yang diperlukan masyarakat? Mudah-mudahan cerita-cerita yang saya post dalam kategori Catatan bersama Masyarakat akan bisa menjawab pertanyaan itu.

Introducing Dr. Agus Prasetya, Direktur ChAIN Center (beliau tidak sedang kehilangan sepatu, itu sedang survey mikrohidro di Samigaluh, 2008)

Demikianlah, dari pertemuan makan siang nasi kotak dengan gudeg ayam itu, lahirlah ChAIN Center, yaitu Chemical Engineering Alliance and Innovation Center. Aliansi dengan kompetensi dari bidang-bidang ilmu lain sangat diperlukan karena jika kita sudah bicara soal ‘kenyataan’,  maka penyelesaian yang ‘nyata’ akan memerlukan pendekatan multidisipliner. Inovasi menjadi karakter yang sangat kental dari aktivitas ChAIN Center dan ChAIN Center percaya bahwa indikasi kehebatan sebuah ‘inovasi’ adalah kesuksesan dalam bisnis.  Plain, simple, and clear, tidak perlu kata-kata filosofis yang megah. ChAIN dapat berarti ‘rantai’ karena ChAIN Center mengkaitkan banyak ‘mata rantai’ yang diperlukan untuk memulai perubahan di negeri ini. Dalam ilmu kimia, dikenal pula istilah ‘chain reaction’, di mana satu pemicu bisa berkembang menjadi reaksi yang meluas dengan cepat. ChAIN Center, dengan langkah-langkah kecilnya, bertekad memicu reaksi rantai yang kelak mengubah wajah Indonesia.

Saya merasa sangat beruntung mendapatkan kesempatan berkawan dengan orang-orang yang kemudian terlibat di ChAIN Center ini. Mereka adalah kombinasi yang menyenangkan dari karakter idealis, realistis, dan strategis, plus tentu saja selera humor yang membuat awet muda (plus hobby bertualang di alam bebas, plus apresiasi tinggi pada seni kuliner tanpa terlalu peduli lingkar pinggang). Plus punya empati besar sehingga motivasinya bukan mencari tambahan penghasilan. Karakter-karakter itu, lengkap dengan semua plus-nya, sangat diperlukan untuk bisa ‘tabah’ berkarya di jalur ini. Seringkali niat baik saja tidak cukup, karena bisa jadi yang didapat justru cibiran sinis, dan pernah pula malah levelnya ‘serangan’. Seperti membina sebuah hubungan, pada saat awal masih banyak sekali penyesuaian yang harus dilakukan oleh kedua belah pihak, yaitu antara universitas dan masyarakat (termasuk di dalamnya pemerintah dan industri). Kalau cuma salah satu pihak yang ngebet, itu namanya bertepuk sebelah tangan dan tidak akan berhasil melangkah ke mana-mana. Bahkan di dalam universitas sendiri, di antara sesama kolega sendiri, masih banyak isyu yang masih perlu dikelola dengan baik jika universitas betul-betul ingin mewujudkan Tri Dharma Perguruan TIngginya (riset, edukasi, pengabdian masyarakat). Posting-posting saya dalam Catatan bersama Masyarakat adalah potret dari sebuah proses panjang untuk mencapai Indonesia yang scientific, di mana sains tidak lagi dikonotasikan sebagai ‘textbook’ dan ‘teori’, tapi betul-betul nyata gunanya untuk bisa hidup lebih nyaman. With ChAIN Center, sciences get real!

Get real !! (Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat oleh UGM, Samigaluh 2008)

Iklan

3 Tanggapan to “ChAIN Center: get real with science”

  1. salam kenal pak…. sebuah pemikiran yang mulai dan simple dan patutu untuk di terapkan… ngomong2 saya berminat menjadi bagian dari team ChAIN Center. saat ini saya masih kuliah di D3 Kesehatan Hewan UGM (Fakultas kedoktera hewan UGM) dan saya mau ikut serta magang di ChAIN Center. kira2 ada lowongan utk mahasiswa magang ga pak?? karena di d3 ugm tdk ada KKN pak…mksh sblmnya

  2. bu wiratni, saya mahasiswa tekim angkatan 09, jujur sangat terterik sama chain center. baru nemu blog Ibu di halaman facebook Ibu..hehe..jadi sering mbaca-mbaca pengalaman yang pernah dialami Ibu…

    • Hai Fadli, mampir saja ke ChAIN Center anytime … di sana ada Mas Wisnu yang bisa cerita banyak tentang kegiatan ChAIN Center. Pak Agus Pras, Dirut ChAIN juga sering ada di sana. Sekarang ada lagi Bu Maya yang barusan diangkat sebagai Direktur Eksekutif ChAIN Center yang juga akan dengan senang hati melayani berbagai inquiry.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: