SAMBAL (pedas, diperlukan tapi keberadaannya diremehkan)

Sambel bawang (Picture courtesy of Daniel Tanto, Loekisan Tjahaja Photography)

Kita sering meremehkan sambal. Padahal, sambal adalah bagian tak terpisahkan dari tradisi kuliner Asia, apalagi Indonesia. Indonesia termasuk salah satu bangsa yang level toleransinya pada kepedasan sangat tinggi, bahkan sudah mencapai level kecanduan. Karena sambal ini biasanya jumlahnya sedikit, biasanya hanya disajikan dalam wadah kecil yang ukurannya paling-paling 5% dari ukuran piring saji yang lain di meja makan kita, maka kita sering tidak terlalu memperhatikannya. Walaupun demikian, jika tidak ada sambal di meja makan, maka reaksi kita akan beragam, mulai dari menunda acara makan sampai pembantu menyediakan sambal, atau membongkar dapur mencari cabe rawit dan bawang untuk membuat ‘emergency sambal’ (bagi yang tidak punya pembantu). Adikarya produksi dapur kita tidak akan sempurna tanpa sambal.

Tidak semua orang bisa "nyambel" (picture courtesy of Daniel Tanto, Loekisan Tjahaja Photography)

Tidak mudah membuat sambal. Suami saya suka sekali sambal dan ibu mertua saya adalah jagoan pembuat sambal terbaik di dunia. Suatu hari Mas Budhi meminta saya membuat sambal ‘yang seperti bikinan Ibu’. OK, saya telpon ibu mertua dan terjadilah transfer ilmu sambal. Saya mencatat dengan patuh di kitab Rahasia Dapur Nyonya Rumah, berapa potong bawang merah, berapa buah cabe, seberapa gulanya, terasinya, garamnya, apa ingredient rahasianya, bagaimana urutan menguleknya, dll. Betul-betul ke-detail-an seorang peneliti. Setelah lengkap rumus sambal dari ibu mertua, maka saya segera beraksi di dapur dan tidak lama kemudian dengan bangga saya sajikan sambal itu di hadapan Mas Budhi, “Presenting …. Your Mom’s sambel!!!” Dengan senyum lebar di wajahnya, Mas Budhi menambahkan sesendok besar sambal ke piringnya. Kemudian mulai menyuap dan saya menunggu komentarnya. Satu menit berlalu, tidak ada komentar. Hmm … saya kenal beliau luar dalam. Diam berarti disapproval. Jadi saya tanya, “So?” Dia tetap makan dengan lahap, “Enak”, jawabnya dengan mulut penuh. Wrong answer, terlalu standar, saya mulai cemberut. “Enak mana sama bikinan Ibu?”. Dia memandang saya dengan tatapan menggoda, “Halah, soal sambel wae digawe kompetisi”. Terjemahan bebasnya adalah: not even close. Saya masih penasaran beberapa hari setelahnya. Saya sowan ke Ibu Mertua, nonton beliau membuat sambelnya (memang rasanya beda dengan sambel saya). Berusaha meniru di rumah, tidak berhasil juga sampai beberapa kali.

Itulah liku-liku dunia sambal. Prosesnya tidak sesederhana penampilannya. Ada faktor X yang berperan di situ, sesuatu yang tidak bisa dideskripsikan dengan jelas, tidak bisa dicatat, dan karenanya tidak bisa digeneralisasi dalam bentuk rumus. Maka dari itu, urusan pengabdian sains pada masyarakat sangat sesuai dianalogikan dengan sambal.

Seperti usaha membuat sambal itulah usaha membuat sains betul-betul berguna dalam masyarakat. Teknologi tepat guna, atau istilah kerennya appropriate technology, sering disepelekan karena dipandang tidak ‘sesulit’, ‘serumit’, dan ‘seilmiah’ karya-karya yang dipajang dalam jurnal-jurnal internasional. Bahkan nilai credit point (perlu untuk ‘naik pangkat’) untuk karya teknologi tepat guna dan usaha membuatnya bermanfaat untuk masyarakat TIDAK dihargai setinggi karya TULIS dalam jurnal internasional. Karena itu tadi, teknologi tepat guna dipandang TERLALU GAMPANG (terlalu riil? Hahahaha … kita memang bangsa yang ironis), ‘semua orang juga bisa’.Saya sering geli mendengar kalangan akademisi menyebut ‘ilmu terapan’. Maksud Bapak/Ibu, ada ilmu yang tidak untuk diterapkan? Tapi itu cuma saya ucapkan dalam hati. Saya sudah cukup banyak trouble tanpa perlu memancing-mancing emosi orang.

Memang kenyataan yang kita hadapi di Indonesia sepedas sambal. Tapi sebagai ‘dedicated sambel lover’, saya dan beberapa kawan di UGM, tidak akan kapok walaupun sudah pernah mengalami berbagai hal tidak enak akibat sambel. Itulah yang dalam bahasa Jawa disebut ‘kapok sambel’, sempat berpikir jera tapi kok ya selalu diulang kembali. Saya yakin, untuk membangun Indonesia memang diperlukan persistence dan stamina 🙂 Jujur saja, beberapa kali saya membiarkan kesempatan-kesempatan ’emas’ berlalu di depan saya (oh, they were so within my reach) karena Indonesia. Walaupun saya sering merasa lelah lalu ngambek, pergi, dan bertekad untuk memikirkan diri saya sendiri saja, akhirnya saya selalu juga kembali lagi ke ground zero saya di Yogya. Ini sudah lebih dari sekedar ‘kapok sambel‘. Meminjam istilah salah satu sobat saya: beyond stupid. Ini namanya cinta buta dan bertepuk sebelah tangan pula, karena tidak ada tanda-tanda Indonesia mencintai saya sama seriusnya seperti saya mencintai dia. Ah apa pun namanya, saya memang cinta Indonesia.

Iklan

4 Tanggapan to “SAMBAL (pedas, diperlukan tapi keberadaannya diremehkan)”

  1. Duh, peneliti kita yg satu ini 🙂 Tapi anyway, apa sih yg membuat peneliti kita yg satu ini merasa tidak dihargai oleh negara-nya?

    Dan kalo bisa, dibikin tulisannya juga dong mbak, how our country can make you feeling better 🙂

    • Ini Gatot yang Joyowardoyo atau bukan? Banyak sih “gatot” dalam friendlistku hehehe … sabar deh, tulisan sudah mulai dibuat, dalam seri tulisan saya “Red Sofa Contemplation” 🙂 Sekarang baru mulai dengan contemplation #1, tentang bagaimana kita memanage perguruan tinggi. Mulai dari statusnya dulu, universitas itu profit or non-profit oriented? Kalau cuma mau curhat sih bisa sepanjang jalan kenangan … tapi saya ini tipe-nya tidak suka complain, lebih suka berusaha finding solution. Makanya serinya adalah contemplation, bukan complaint 😉

  2. setiap sambel juga tergantung pembuatnya,dan seringnya sertiap orang menghasilkan rasa sambel bikinan yang berbeda walau inggridientnya sama,yang penting do the best yang kita bisa dalam memperkaya rasa sambel di indonesia tercinta ini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: