Daniel Tanto

Partner in crime (Picture courtesy of no one, saya curi saja dari Facebook-nya Daniel)

Daniel adalah sahabat yang saya kenal sejak sama-sama di SD. Tarakanita di tahun 80an. Sejak SD, catatan akademik saya cukup impresif. Saya HAMPIR selalu ranking 1 di kelas. Si Daniel ini, adalah satu-satunya anak yang membuat saya pernah merasakan posisi ranking 2 sepanjang sejarah pendidikan saya. Dia mengalahkan saya secara telak di kelas 2 SD. Saya sudah punya sifat kompetitif yang overdosis waktu itu, sehingga jelas saya benci sekali pada Daniel. Tapi dia punya koleksi buku cerita yang sangat menarik yang membuat saya kecanduan untuk meminjam, sehingga  saya sering lupa bahwa harusnya saya benci dia karena telah menodai rapor SD saya dengan ‘ranking 2’.

Blog ini ada karena Daniel. Menurutnya, cara saya menyampaikan ilmu saya ‘tidak masuk akal’. Tidak membumi. Orang di luar lingkungan teknik kimia tidak akan paham apa yang saya kerjakan dan tentunya jadi tidak akan bisa ikut memanfaatkan. Dia menantang saya untuk membangun Indonesia yang ‘scientific‘. Dia mengatakan bahwa saya baru betul-betul ada gunanya kalau saya bisa membuat generasi masa depan Indonesia belajar sains dengan rasa keingintahuan, bukan untuk mendapatkan nilai tinggi agar bisa masuk sekolah-sekolah bergengsi. Dia menantang saya untuk membuat bangsa Indonesia ‘passionate‘ terhadap sains.

Diskusi-diskusi dengan Daniel serasa naik roller coaster. Exciting walaupun kadang-kadang membuat saya mual. Dia hidup di dunia yang sangat berbeda dengan dunia saya dan tidak sungkan-sungkan menjungkirbalikkan dunia saya dengan pandangan-pandangan orisinilnya. Daniel mengajari saya memandang dunia dari angle yang tidak biasa. Ini sangat penting untuk seorang peneliti. Oh ya, dia juga mengajari saya cara memotret dengan baik dan benar 🙂

Iklan

3 Tanggapan to “Daniel Tanto”

  1. Bener Win. Aku setuju banget. Aku sedih ketika mahasiswaku (salah satu komponen generasi masa depan) hanya mengejar nilai tinggi di setiap semester, tapi ketika ujian skripsi tidak bunyi sama sekali. Rasanya lebih menyenangkan diskusi dan mentransfer ilmu kepada masyarakat awam ketika mereka haus akan ilmu itu. Karena aku sadar bahwa kehausan mereka adalah benar-benar untuk menyambung hidup dan generasi dan memperkaya ilmu yang sudah mereka miliki. Proud to know your recent activities…..Really inspiring and encouraging…Carry on

    • Ini Prof. Andri Cahyo Kumoro kah? Hehehe … nice to “meet” you … and even nicer to know that we are on the same page 🙂 ayo gawe kolaborasi UGM-UNDIP?

  2. Iya Win, ini Andri. Sebelumnya aku cukup kaget dengan kiprah teman-teman dan para guruku di UGM yang cenderung sepi di kancah DIKTI, KEMENRISTEK, KEMENTAN , dll. Aku hanya bisa menduga dan menerka…betapa sibuknya beliau semua….Tapi aku merasa mak NYESS.. (adhem)….dan bukan mak NYUSS ( i am not sure how to describe the actual feeling of this Bondan Winarno’s famous word)…ketika baca blog ini. Kekhawatiranku yang begitu klasik itu sirna seketika…Aku juga makin bangga dengan almamaterku yang terus mengedepankan misi kerakyatannya dengan tindakan nyata….bukan pernyataan belaka. Sangat senang jika aku berkesempatan bergabung dengan kegiatan GANGmu kelak. Sebuah tawaran yang sangat menarik dan sulit ditolak….seperti kata Daniel itu…Sebagai bagian dari sebuah kehidupan besar di bumi….maka menebar kebajikan di bumi memang harus dengan cara yang membumi juga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: