Prof. Ray Y. K. Yang, PhD

Dr. Yang adalah orang yang berjasa memperkenalkan saya pada dunia yang sekarang saya tekuni: teknik bioproses. Pertama kali saya mendengar nama Dr. Yang adalah dari gosip-gosip di graduate lounge, ruang besar di Chemical Engineering Department WVU tempat para mahasiswa S2 dan S3 saling curhat tentang riset masing-masing plus bumbu-bumbu kisah di balik layar: supervisor yang sangat penuntut, supervisor yang sulit dipahami apa maunya, dll. Beliau aslinya Taiwan tapi sudah di USA sejak S1 dan selalu di sekolah-sekolah top. Memang beliau sangat cerdas dan itu kelihatan saat beliau sedang menganalisis data atau mereview tulisan-tulisan mahasiswanya. Seperti dokter bedah yang sangat telaten mengiris selapis demi selapis sampai ketemu sumber masalahnya.

Selain bekerja di lab-nya untuk riset postdoc saya yang pertama, waktu masih kuliah S3 saya juga menjadi asisten beliau (saya harus mencari tambahan pekerjaan agar dapur tetap ngebul waktu itu, karena beasiswa saya cupet sekali) dalam mata kuliah proses transfer. Saat menjadi asisten beliau ini saya belajar juga bagaimana caranya merencanakan perkuliahan dengan sangat detail (Dr. Yang adalah orang yang sangat perfeksionis). Walaupun mahasiswa-mahasiswa bimbingannya termasuk kelompok yang keluhannya paling panjang di graduate lounge, saya merasa cocok dengan ritme kerja beliau dan tampaknya demikian pula sebaliknya. Beliau sangat tertarik dengan original research proposition yang saya presentasikan sebagai salah satu syarat PhD candidacy saya dan kemudian membantu saya untuk mencarikan dana. Kami berhasil dan akhirnya saya bekerja bersama beliau di lab Bioreactiong Engineering yang beliau pimpin.

Sebulan pertama, beliau sendiri yang men-training saya di lab tentang teknik-teknik dasar bekerja dengan mikrroorganisme, seperti teknik meregenerasi simpanan bakteri, dll. Menurut beliau, saya termasuk sangat mudah diajari, dan oleh karena itu, beliau tidak henti-hentinya meyakinkan saya bahwa saya berbakat di teknik bioproses. Akhirnya saya percaya.

Dr. Yang, dalam beberapa hal, mengingatkan saya pada Prof. Boma. Beliau tampaknya formal, tapi sebetulnya berperasaan sangat halus dan sangat perhatian pada orang lain. Suatu ketika, Dr. Yang bertanya, berapa gaji saya sebagai dosen di Indonesia dan beliau sangat terkejut saat tahu bahwa gaji saya itu hanya cukup untuk beli satu textbook standar engineering di USA. Waktu itu beliau hanya memandang saya dengan penuh belas kasihan. Saya pun hampir lupa percakapan itu, sampai menjelang tiba saatnya saya harus pulang ke Indonesia. Beliau datang ke lab dengan membawa sekardus penuh textbook (asli, bukan bajakan). Katanya, “Ini buku-buku yang saya sudah punya edisi yang lebih baru. Ini buat kamu. Maaf bukan edisi terbaru tapi paling tidak, sementara bisa kamu pakai sampai kamu punya penghasilan yang cukup untuk beli yang baru nanti”. Saya terharu sekali, terutama karena tidak mengira dia ingat saya kesulitan mendapatkan textbook mutakhir dengan gaji PNS saya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: