Prof. Wahyudi Budi Sediawan, PhD

Pak Wahyudi adalah guru saya yang banyak mempengaruhi cara berpikir saya, tidak hanya dalam riset tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Kami sering berdiskusi tentang berbagai hal, mulai dari komik Tintin sampai statistical mechanics dan dalam hampir semua pembicaraan selalu ada highlight yang sifatnya filosofis. Tidak selalu saya sealiran dengan filosofi-filosofi beliau, walaupun dalam banyak hal kami sependapat. Walaupun beliau adalah profesor senior di Jurusan saya, beliau tidak pernah berkomentar negatif terhadap ‘pembangkangan-pembangkangan’ saya yang terang-terangan mengambil sisi berlawanan dari apa yang beliau yakini sebagai sebuah ‘kebenaran’.  Kebesaran hati untuk menerima perbedaan-perbedaan sebagai sesuatu yang alamiah adalah hal langka di Indonesia.

Dalam sains, kebanyakan kami sejalur. Beliau mengajari saya teknik-teknik untuk menerjemahkan kejadian-kejadian alam ke dalam bahasa matematika, agar kita bisa memperbudak komputer untuk melakukan banyak hal bagi kita. Satu hal fundamental yang saya pelajari dari beliau adalah bagaimana memisahkan hal yang esensial dari hal-hal yang insidental, sehingga kita bisa melihat inti permasalahan dengan sangat jelas. Kadang-kadang, suatu fenomena kelihatan begitu rumit hanya karena intinya tertutup terlalu banyak ‘ornamen-ornamen’. Seperti membuka sebuah penyamaran. Kita akan bisa melihat sosok sesungguhnya setelah make up dihapus dan semua atribut-atribut dilepas. Ini bukan hal yang mudah, tapi Pak Wahyudi selalu bisa membuatnya jadi mudah.

Setiap kali saya merasa mentok tidak tahu harus berbuat apa, beliau hanya mengatakan, “Listen to the sound of silence”. Awalnya saya mengumpat dalam hati mendapatkan nasihat abstrak begini, tanpa ada juklak-nya lagi. Persis gaya guru-guru kungfu. Tapi dengan berjalannya waktu, saya mulai mengerti apa maksudnya dan bagaimana melakukannya. Hal-hal yang tersirat itu lebih penting daripada yang tersurat. Kita cuma bisa ‘mendengar kesunyian’ jika kita sudah sampai pada taraf ‘menghayati’. Selama kita masih pada level permukaan, maka yang kita dengar hanya kebisingan-kebisingan yang tidak ada artinya. Saya membawa filosofi ini dalam keseharian saya, dan tentu saja dalam riset-riset saya. Penghayatan.

Iklan

2 Tanggapan to “Prof. Wahyudi Budi Sediawan, PhD”

  1. Tolong tanyakan Prof.Sediawan darimana mendapatkan nasihat abstrak yang ada kata2 “the sound of silence”. Saya adalah penggemar film2 kuno dan, menurut ingatan saya, kata2 “the sound of silence” berasal dari sebuah lagu yang diputar ber-kali2 dalam film “The Graduate”. Film “The Graduate” adalah film kuno yang dibuat akhir tahun 1960an yang dibintangi oleh aktor Dustin Hoffman yang memerankan “Benjamin” yang baru saja lulus Sarjana S1. Alur ceritera dari film “The Graduate” tergolong “ng-gaplek-i” (bahasa Surabaya-nya), karena “Benjamin” yang masih lugu dan yang sedang dijodohkan kepada “Elaine” ternyata justru dirayu oleh “Mrs. Robinson” (ibu-nya “Elaine”) untuk bercinta. Jadi, “Mrs. Robinson” bisa dijuluki sebagai “Tante Girang” (yaitu wanita setengah baya yang tertarik untuk bercinta dengan pria muda). Papageno perkirakan film “The Graduate” di-“released” saat Prof.Sediawan masih di bangku SMA, karena khan dia angkatan 1972 di Teknik Kimia UGM, ya tho?!

    • OK besok saya tanyakan ke Prof. WBS. Walaupun tahun 72 saya belum lahir, saya tahu film “The Graduate”, sepertinya ada versi Broadway-nya yang pernah bikin heboh karena Kathleen Turner beradegan naked (?) Saya tidak ingat ada kata2 ‘sound of silence’ di OST-nya, yang saya ingat salah satu lagunya judulnya “Mrs. Robinson”, style-nya mirip banget lagu beatles tapi ternyata bukan beatles yang bikin. BTW Pak, kalau berkenan menyumbang cerita bagaimana rasanya menjadi ‘pekerja sains’ dll di negara maju, sangat diharapkan lho Pak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: