To light my torch

•Juli 18, 2013 • 6 Komentar

“Science knows no country, knowledge belongs to humanity, it is the torch that illuminates the world” (Louis Pasteur)

Sebuah catatan tentang salah satu “perhentian” dalam petualangan sains Wiratni Budhijanto: Kavli Frontier of Science Symposium (co-organized by National Academy of Science/US and Indonesian Academy of Sciences/AIPI), Ayodya Resort, Nusa Dua Bali, 22-27 Juni 2013

Kavli Meeting 2013, Ayodya Resort, Nusa Dua Bali

Kavli Meeting 2013, Ayodya Resort, Nusa Dua Bali

Indonesian-American Kavli Frontier of Science Symposium adalah forum yang diselenggarakan oleh National Academy of Science (USA) dan Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) untuk para peneliti yang usianya di bawah 45 tahun. Jadi ini orang-orang yang sudah di pertengahan karirnya. Tidak terlalu newbie, sudah punya warna dan gaya dalam ilmunya, tapi belum ketuaan sehingga “belum” merasa terlalu hebat untuk membuka pikiran terhadap ide-ide baru. Dalam setiap symposium, hanya akan dipilih maksimum 70 fellows yang berasal dari kedua negara, dengan berbagai latar belakang ilmu. Dari masing-masing disiplin dibatasi jumlah orangnya dan dipilih orang-orang yang bidang risetnya “tidak mainstream”. Dengan mempertemukan orang-orang “nekad” dari Indonesia dan USA, diharapkan muncul ide-ide unik yang Insya Allah menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi humanitas.

Hal yang paling menyenangkan buat saya adalah jika ilmu saya bisa terdengar sangat sederhana oleh siapa pun (Forum Wanita Kreatif PSM-Pagerwojo/Samar/Mulyosari Kabupaten Tulungagung, mendiskusikan cara membuat kripik mbothe yang tidak nggateli tenggorokan dan awet renyah)

Hal yang paling menyenangkan buat saya adalah jika ilmu saya bisa terdengar sangat sederhana oleh siapa pun (Forum Wanita Kreatif PSM-Pagerwojo/Samar/Mulyosari Kabupaten Tulungagung, mendiskusikan cara membuat kripik “mbothe” yang tidak nggateli tenggorokan dan awet renyahnya)

Dalam essay yang akan digunakan untuk menentukan seberapa “uniknya” saya, saya bercerita tentang obsesi saya membuat ilmu pengetahuan, dalam hal ini teknik kimia, berguna dan menyenangkan bagi semua orang, termasuk orang-orang yang kurang beruntung dalam hal kesempatan memperoleh pendidikan formal yang baik. Saya menulis tentang intersection antara ilmu engineering dengan ilmu sosial dalam upaya membangun suatu komunitas yang inovatif dan sustainable. Tidak ada teori yang muluk-muluk, saya sekedar menuliskan riset saya di “dunia nyata”.

Saya menikmati pekerjaan saya, terutama "mainan-mainan" saya di lab. Tapi sesekali perlu menjauh beberapa saat, untuk menjaga keterbukaan pikiran. Selalu perlu pergi keluar dan bertemu orang-orang hebat, untuk bisa melihat kekurangan-kekurangan saya.

Saya menikmati pekerjaan saya, terutama “mainan-mainan” saya di lab. Tapi sesekali perlu menjauh beberapa saat, untuk menjaga keterbukaan pikiran. Dan juga perlu pergi keluar dan bertemu orang-orang hebat, untuk bisa melihat kekurangan-kekurangan saya.

Ternyata panitia seleksi menyukai essay saya dan karenanya saya jadi salah satu dari 40 peneliti muda (hampir tua) yang diundang ke pertemuan tersebut. Saya pun harus “berakrobat” menyiapkan poster, abstrak, dll di sela-sela pekerjaan rutin serabutan di kantor saya (yang tidak jelas targetnya, tidak ada arahannya, dan tidak ada SOP-nya … tapi harus siap dikritik dan “dirasani” setiap saat … serta tentunya bikin saya makin frustrasi dari hari ke hari itu). Surprisingly, bisa juga saya mengirimkan PR-PR saya sebelum deadline. Thanks to my partner in crime in the office yang selalu bisa menyelesaikan mission impossible dari saya 😀

Akhirnya, saya terbang ke Bali. Hari yang cerah, penerbangan yang menyenangkan, mendarat di Ngurah Rai dengan selamat. Interaksi dengan para “Kavli Fellow” pun dimulai. Dalam mobil jemputan, bersama saya adalah seorang doktor farmasi dan seorang doktor biologi molekuler. Dasar ilmuwan, sepanjang perjalanan dari airport ke Nusa Dua, yang melalui jalan-jalan macet, kami malah melahirkan ide penelitian bersama. Kartu nama saling ditukar, dan sesampainya di hotel , kami berpisah ke kamar masing-masing diiringi ucapan, “Email me, kita matangkan ide kita”.

Sampai di sini saya mulai meragukan “niat luhur” saya untuk berlibur di Bali … jangan-jangan malah menciptakan pekerjaan baru … *penyakit kronis*

Agenda pertama dalam rangkaian acara Kavli adalah workshop dari USAID. Fasilitatornya adalah profesor-profesor senior dari USA, yang sudah jadi reviewer untuk berbagai agensi pemberi dana maupun jurnal ilmiah papan atas. Dua profesor mentor kami adalah Prof. Laura Greene (profesor fisika dari University of Illinois Urbana-Champaign) dan Prof. Geraldine Richmond (profesor kimia dari University of Oregon).

Kami para peneliti muda yang masih banyak “ngawur”-nya ini diajari caranya

Untuk bisa menulis dengan baik, seseorang perlu banyak membaca. Tepatnya, perlu SANGAT banyak membaca.

Untuk bisa menulis dengan baik, seseorang perlu banyak membaca. Tepatnya, perlu SANGAT banyak membaca.

menulis proposal yang baik. Proposal di sini maksudnya BUKAN proposal untuk membuat para profesor di jurusan kami impressed dengan saking banyaknya persamaan matematik yang kelihatan sangat ruwet, tapi proposal untuk membuat ide kita menarik bagi siapa pun yang mau mbayari riset kita itu. Selain itu, kami juga diajari caranya menulis paper untuk publikasi jurnal. Saya sudah tahu sebagian besar dari tips dan triks yang diberikan. Tapi workshop ini memberikan semangat untuk mulai lebih serius dalam menulis.

IMG-20130626-00946Refleksi di akhir hari sambil berendam dengan produk spa Ayodya Resort diterangi cahaya lilin aromaterapi:

a. Mentorship dari senior kita sebetulnya sangat penting untuk mengakselerasi karir kita. Mentorship itu harus dilakukan secara sistematis, dengan mengajak junior terlibat dalam pekerjaan-pekerjaan profesional seniornya, bukan sebagai “budak belian” semata-mata, tapi sebagai sarana “learning by doing”. Banyak hal yang harus diajarkan secara eksplisit. Bahkan belajar kung fu pun ada metodenya, ada ceramahnya, sehingga si murid tidak asal menirukan jurus gurunya, agar tidak salah interpretasi. Tanpa bermaksud apa-apa, ini murni fakta yang saya alami, selama ini saya mencari jalan saya sendiri, jatuh bangun sendiri, “kesleo” sendiri dengan jurus-jurus baru yang saya pelajari. Jadi saya berjanji pada diri saya sendiri, saya akan dampingi para junior di jurusan saya. Bukan karena saking hebatnya saya. Justru saya akan menceritakan kesalahan-kesalahan saya agar mereka tidak perlu mengulang kesalahan yang sama dan bisa lebih cepat jadi lebih hebat daripada saya.

Bayangan kita selalu tampak sama di mata kita. Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi lebih baik, minta orang lain menceritakan apa yang dia lihat pada diri kita.

Bayangan kita selalu tampak sama di mata kita. Oleh karena itu, jika kita ingin menjadi lebih baik, minta orang lain menceritakan apa yang dia lihat pada diri kita.

b. Kesalahan-kesalahan yang saya lakukan dalam rangka berburu grant adalah:

  1. Terlalu mepet deadline. Saya tidak boleh lagi menyalahkan call for proposal yang memang anehnya sangat mepet deadline (terutama dari sumber dalam negeri), karena harusnya saya punya bank proposal yang siap kirim hanya dengan dipoles-poles dikit.
  2. Rasanya “peer review” dari kolega kurang serius. Saya sudah membuat daftar nama orang-orang :scientifically serius” yang akan saya mintai bantuan mereview proposal-proposal dan paper-paper saya kelak. Kriterianya adalah: beliau adalah orang yang sudah matang dalam urusan review karena dia sendiri sudah sering direview. Reviewer matang bisa membedakan level-level yang berbeda: apakah dia mereview orang yang masih “hijau”, atau dia sedang mereview orang yang sudah “matang”. Tekniknya beda untuk kedua level tersebut. Salah satu ciri reviewer yang “dangkal” adalah gejala megalomania (yang salah satu cirinya adalah suka mengatakan “pekerjaanmu perlu major correction, ini harus dirombak total, dll”). Saya hampir masuk angin saking lamanya ngelamun dalam bath tub memikirkan siapa bakal reviewer saya yang memenuhi semua kriteria tersebut, dan itu pun hanya menghasilkan sedikit nama, hanya tiga nama dari jurusan saya sendiri dan malah ada 4 nama dari jurusan/fakultas tetangga yang sering mengajak saya dalam project mereka (so at least mereka akan mereview karya saya dengan open mind, bukan dengan semangat “major correction”).
  3. Saya sering kurang teliti dalam membaca guideline dan tidak telaten memperbaiki format. Apalagi dengan aktivitas saya yang sangat mobile, rasanya sulit punya waktu beberapa jam duduk tenang dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang walaupun cuma soal format, tapi bisa mempengaruhi mood sumber dana atau reviewernya. Untuk soal ini, saya sudah punya calon asisten. Saya sudah menemukan cara “mendeteksi” bakat titi-teliti di antara para mahasiswa S2 dan S3 saya. Saya akan gunakan jasa mereka untuk membantu “membersihkan serpihan-serpihan keburukan” pada format proposal saya. Tentunya tidak gratisan. Setahu saya perbudakan sudah lama dihapuskan dari muka bumi 🙂
  4. Saya tidak pernah tahu, apa kekurangan pada proposal-proposal saya yang gagal didanai. Mulai sekarang, saya akan hubungi officer yang berwenang untuk minta hasil review pada proposal saya yang gagal. Kalau tidak diberi ya sudah, tapi at least saya harus coba minta. Saya harus belajar jadi orang “manis” yang pandai memancing-mancing informasi. Untuk proposal dalam negeri, hal ini tidak mungkin. Tapi untuk donor luar negeri, ini sangat mungkin dilakukan.
  5. Saya sering keliru memilih kolaborator. Dalam workshop ini, Geraldine dan Laura memberikan tips bagaimana caranya menemukan kolaborator yang bisa sinergis dengan kita. Sama seperti berjalan bergandengan: syarat utama untuk kenyamanan kedua belah pihak adalah “kecepatan yang sama”.  Susah juga kalau saya sudah lari sementara dianya masih koprol-koprol sendiri di tempat. Nah, Laura kasih ide cara ngetest calon kolaborator ini. Tapi tidak akan saya bocorkan di sini, karena siapa tahu Anda adalah orang yang akan saya test 😀 Salah milih orang itu mahal harganya, saya pernah kehilangan 12 juta rupiah sia-sia hanya karena salah milih orang, itu belum termasuk beban moral yang harus saya tanggung entah sampai kapan.
Sebagian dari kolaborator yang saya yakin tidak salah pilih karena expertise kami sangat complementary. Tapi expertise itu bukan hal utama yang membuat kolaborasi kami cukup awet. Pengikatnya adalah "compatibility"

Sebagian dari kolaborator yang saya yakin tidak salah pilih karena expertise kami sangat complementary. Tapi expertise itu bukan hal utama yang membuat kolaborasi kami cukup awet. Pengikatnya adalah “compatibility”

c. Kesalahan-kesalahan saya dalam masalah publikasi ilmiah adalah:

  1. Saya kurang disiplin. Harusnya setiap ada mahasiswa “lolos” dari perguruan silat “The Wiratni’s Lab”, maka harus ada paling sedikit satu publikasi, entah saya yang nulis atau si mahasiswa yang nulis kalau dia sepertinya kelebihan energi *Alhamdulillah kebanyakan mahasiswa yang memilih saya sebagai pembimbing adalah tipe workaholic hehehehe*
  2. Saya terlalu ambisius membidik jurnal-jurnal high impact. Laura ngajari bagaimana strategi “climbing” dalam mengejar ambisi tersebut, tanpa mengorbankan waktu kita untuk “having fun”. Nah salahnya saya selama ini: saya jadi kurang strategis karena buta oleh ambisi saya sendiri. Semacam cinta buta yang memang kebanyakan berakhir dengan gundah gulana :p
  3. Saya tidak didukung situasi yang kondusif untuk menulis. Jelas saya tidak bisa nulis paper di kantor karena mahasiswa sepertinya tidak bisa melihat saya duduk tenang, mereka jedhal-jedhul di pintu kantor membuyarkan konsentrasi saya. Di rumah juga tidak bisa, karena saya selalu pengen bersih-bersih dan masak kalau di rumah ..
Di rumah ini sejarah keluarga besar kami dimulai. Sekarang rumah ini menjadi saksi perjuangan saya menyalakan obor sains saya.

Di rumah ini sejarah keluarga besar kami dimulai. Sekarang rumah ini menjadi saksi perjuangan saya menyalakan obor sains saya.

Lantas saya mikir-mikir, apa yang saya perlukan supaya saya bisa fokus pada urusan ilmiah saya? Ini dia:

–          Waktu, dedicated time for it. Tidak akan pernah ada waktu kalau saya tidak mengalokasikan. Kesibukan sama sekali bukan alasan. Sudah saatnya saya punya porsi waktu lebih untuk diri saya sendiri.

–          Tempat yang nyaman dan tidak banyak distraction, dengan setting yang paling membuat saya merasa nyaman tapi tidak kebablasan ketiduran. Sepertinya sebuah sudut di rumah ibu saya akan sempurna untuk keperluan ini. Satu-satunya kemungkinan distraction adalah ibu saya yang hobby ngajak diskusi politik setiap kali saya nongol di rumah beliau. Tapi gampang diatasi juga: saya akan bawa majalah Gatra yang biasanya akan bikin beliau sibuk sendiri beberapa jam.

–          Semua resource harus dalam jangkauan klik “mouse”: semua software yang saya perlukan harus tersedia (dan original) dalam laptop saya, laptop saya harus cukup powerful untuk melakukan kalkulasi sendiri (maaf bukannya tidak percaya pada mahasiswa, tapi saya harus lakukan sendiri juga untuk bisa menghayati permasalahannya), ada software referencing versi terbaru, file organization yang rapi, koneksi internet yang menyenangkan … so sepertinya saya perlu gadget yang memungkinkan saya download apa pun dari mana pun, termasuk di tempat di mana mahasiswa tidak akan bisa menemukan saya.

–          Saya perlu mengiming-imingi diri sendiri. Jadi saya buat daftar barang yang saya ingin punya dan saya akan beli satu per satu setiap kali ada paper saya berhasil published. Saya selalu mengimpikan dapur indah yang sophisticated dari ujung ke ujung. Hmmmm … bagus juga kalau bersamaan dengan saat kelak saya berhasil jadi profesor, dapur saya sudah jadi dapur tercanggih sak-dusun Keditan. Saya akan masak menu-menu andalan saya spesial untuk para kolaborator saya 🙂

Ini motivasi saya sambil mengumpulkan angka kredit untuk professorship saya: dapur dengan arsitektur kuno, tapi appliances super modern (dari www.onekindesign.com)

Ini motivasi saya sambil mengumpulkan angka kredit untuk professorship saya: dapur dengan arsitektur tradisional, tapi appliances super modern, yang kalau perlu bisa saya kendalikan dengan “remote control” !!! (foto dari http://www.onekindesign.com). Kira-kira ada 8 item yang saya perlu beli hahaha … Jika 2 publikasi internasional per tahun, maka dalam 4 tahun saya bisa mengundang teman-teman dekat saya merayakan professorship saya di dapur seperti ini 😀

… sampai di sini saya merasa kok pikiran saya jadi ngelantur … malah jadinya mikir lantai dapurnya seperti apa, temboknya seperti apa, kompornya yang bagaimana dll … Jangan-jangan saya milih profesi dosen ini adalah sebuah kesalahan sejarah …

Menjelajah terasiring Bali sambil "mencari mangsa" yang sesuai sebagai kolaborator

Menjelajah terasiring Bali sambil “mencari mangsa” yang sesuai sebagai kolaborator

Acara hari berikutnya adalah cultural trip ke museum subak dan sawah terasiring di daerah Jatiluwih. Sepanjang perjalangan melalui jalanan macet Bali di musim liburan, saya mulai berinteraksi dengan sesama partisipan, baik yang dari Indonesia maupun USA. Saya baru menyadari, yang namanya scientists, tidak peduli starting point ngobrolnya dari mana, akhirnya pasti akan “belok” ke ilmunya. Jika hanya satu scientist yang bicara (seperti sering terjadi di komunitas saya yang lain :p), maka akhirnya pembicaraan itu beda tipis banget dengan “kesombongan”. Tapi jika konteksnya adalah sekumpulan orang yang semuanya dalam misi mencari mitra kolaborasi, maka ternyata default gaya ngobrol scientists yang saya deskripsikan di atas jadi berubah. Saya perhatikan beberapa orang di sekitar saya, cara mereka membuka percakapan masih menggunakan modus yang sama: start dengan sesuatu yang bakal bisa mengarah ke expertise-nya. Tapi ada bedanya. Mereka tidak mengakhiri pembicaraan dengan membicarakan diri mereka sendiri, tapi mereka justru memancing-mancing lawan bicara mereka untuk cerita. Jika ternyata tidak ada potensi jadi mitra karena bidang yang bumi-langit bedanya, maka mereka basa-basi sedikit, lalu segera move on ke sasaran berikutnya.

Saya melakukan hal yang sama. Cara saya “memancing” informasi dari salah satu kenalan baru, yang ternyata adalah psikolog yang mengembangkan mathematical modeling untuk memodelkan perilaku masyarakat (iya bener, pakai rumus matematik dan computer codes!!!!) adalah pertanyaan, “Do you believe in horoscope?”. Akhirnya keluar semua ceramahnya tentang statistik, social data mining, dll. Saya hampir belum menceritakan apa-apa tentang diri saya sendiri tapi saya bilang, “If you like challenges, try your model in Indonesian community”. Saya bercerita tentang heterogenitas masyarakat Indonesia, tentang “labil”-nya pandangan politik mereka maupun pandangan-pandangan yang lain, dll. Sama sekali tidak cerita apa-apa tentang diri saya. Tapi di akhir obrolan kami, dia bilang tahun depan dia ingin ke Yogya. Di hari berikutnya, tiba-tiba dia bilang ke saya, “Are you the one who own the poster about ‘Sustainable Village’?” Sambil nyengir lebar saya bilang, “Not mine, it belongs to my research group, there is actually a bunch of people behind it.” Lalu dia tertarik, siapa saja mereka yang dalam grup risetmu itu? Saya ceritakan orang-orang dengan berbagai background di grup riset saya. Akhirnya dia tanya, “Do you ever need a psycholog?” Hahahaha … yes sure!!! *saya memang perlu diperiksa apakah saya ini psychologically healthy* Moral of the story: untuk mempromosikan diri sendiri, tidak selalu harus dengan “menyombongkan diri”. Cukup dengan membuktikan bahwa kita adalah “teman ngobrol” yang asyik saja, lawan bicara kita akan tertarik untuk berusaha tahu lebih banyak tentang kita. Oleh karena itu, virtual existence seperti blog ini jadi sangat penting 🙂

Nah itu hanya salah satu ilustrasi apa yang kami lakukan hari ini. Sambil meloncat-loncat di pematang sawah, sambil nongkrong di dangau Pak Tani, sambil foto-fotoan narsis, hari ini ratusan percakapan seperti ilustrasi saya itu terjadi secara paralel. Dan saya yakin, hanya dalam sehari ini saja, sudah banyak janji “email me later, please keep in touch” terucap.

Tempat-tempat di mana scientists berkumpul (seminar, workshop, dan sejenisnya) adalah tempat ideal untuk menebar jaring kemitraan. Bagaimana caranya supaya dalam waktu singkat kita bisa menjajaki sebanyak-banyaknya orang dan betul-betul mendapatkan mitra yang cocok lahir batin saat hari berakhir. Masalahnya adalah: kalau ada 100 orang dalam ruang konferensi, apakah cukup waktu untuk ngobrol “muter-muter” seperti contoh obrolan horoskop di atas?

Soal ngajak bicara horoskop dengan calon mitra saya itu bukan kebetulan. Saya sudah tahu background dia, jadi saya bisa lontarkan umpan yang langsung dia caplok dengan gembira tanpa merasa bahwa saya sedang “mancing-mancing”. Berikut ini beberapa tips dari saya agar Anda bisa mendapatkan mitra-mitra baru dengan sangat cepat tanpa terjerumus dalam jebakan janji-janji palsu:

  • Pelajari background semua orang IN ADVANCE. Kita pasti diberi buku abstrak atau jadwal presentasi di mana ada nama-nama partisipan. Dari sebegitu banyak nama dalam abstrak, seleksi partisipan yang menarik untuk kita ajak kolaborasi. Dari cara dia menulis abstraknya, biasanya saya sudah bisa menduga bagaimana orang itu in person hahahahaha …
  • Dengan daftar partisipan yang sudah jauh lebih pendek, paling hanya 10-15% dari total partisipan, saya mulai cek ke google scholar atau scopus untuk tahu lebih banyak tentang orang-orang ini dalam hal reputasi akademiknya. Banyak orang yang hanya pandai bicara tapi tidak ada “jejak” riil-nya. Biasanya di forum-forum nasional, setelah menjelajahi scientific search engine, hanya 2-3 nama yang tersisa 🙂
  • Nama-nama itulah yang dengan aktif saya “buru” selama berlangsungnya event tersebut. Biasanya saya selalu berhasil menemukan orang-orang ini dan “berhasil” pula duduk bersebelahan dalam berbagai kesempatan. Fase ngobrol ini adalah tahap yang paling penting untuk memastikan orang ini “gelombangnya” sama atau tidak dengan saya. Banyak hal yang sifatnya “personal” dalam kolaborasi yang melibatkan unsur-unsur akademik.

Selama 3 hari selanjutnya kami mendengarkan pemaparan dari berbagai latar belakang ilmu. Rasanya amazing sekali mendengarkan para pakar bicara tentang bidang-bidang yang selama ini rasanya begitu jauh dari bidang keahlian saya. Saya ndomblong melihat riset-riset tentang biodiversity. Saya sudah sering dengar bahwa Indonesia sangat kaya sumber daya alam. Tapi menyaksikan bagaimana para ahli mengidentifikasi dan mendokumentasi kekayaan itu sampai ke level informasi genetiknya, betul-betul membuat saya ternganga. Kita bukan cuma kaya … kita ini SUPER DUPER KAYA!!! Lalu disambung pemaparan tentang efek psikologis denominasi rupiah pada masyarakat. Lalu cerita tentang bakteri-bakteri yang bisa hidup dalam lingkungan ekstrim, entah pH super asam, suhu ratusan derajat celcius, dll. Kemudian ada presentasi tentang trend obat-obatan yang di-personalize sesuai dengan karakter genetik kita dan penyakit kita.

228690_1852221277128_2831056_n

Alam Indonesia begitu kaya. Tapi mengapa orang-orang ini tidak pernah menikmatinya? Padahal mereka satu-satunya golongan di negeri ini yang secara riil berusaha mengelola kekayaan itu, dengan kemampuan mereka yang terbatas, dan dengan berbagai himpitan akibat ulah kita orang-orang yang lebih beruntung di segala aspek kehidupan.

Ini pertama kalinya saya mengikuti konferensi dengan bidang ilmu yang sangat beragam. Ternyata efeknya sangat besar buat kreativitas saya. Berbagai ide “unconventional” bermunculan. Dan yang lebih penting lagi, saya merasa semangat bertualang di dunia ilmu pengetahuan seperti mendapat bahan bakar baru, setelah kejenuhan saya pada berbagai hal “non-scientific” yang TERPAKSA harus saya lakukan di kantor selama 7 tahun terakhir ini, dan kerinduan saya pada “sparring partners” yang bisa menantang saya dengan pemikiran-pemikiran cemerlang.

EPILOG

Seminggu di Bali berbaur dengan sekumpulan peneliti dengan berbagai latar belakang, telah membuat saya menyadari banyak hal yang selama ini tidak terpikirkan, atau terpikirkan tapi kemudian terabaikan. Saya memutuskan jadi dosen dengan sebuah idealisme bahwa Tri Dharma Perguruan Tinggi saya akan memberi warna baru pada masyarakat, khususnya masyarakat Indonesia. Saya bangga sebagai dosen UGM, karena universitas ini sangat berani mengibarkan bendera kerakyatan. Tapi apa yang terjadi pada diri saya 7 tahun terakhir ini? Sebagaimana diibaratkan oleh Pasteur bahwa ilmu pengetahuan itu bagaikan sebuah obor, maka obor saya meredup nyalanya. Banyak kekecewaan besar yang membuat saya merasa sendirian menempuh jalan yang tidak lazim dipilih orang ini, the road less traveled. Jika saya tetap berada di playground ini, berkutat dengan player yang sama, maka obor saya akan betul-betul padam. Saya menjunjung tinggi kebebasan berpikir, dan ini saatnya saya “mengambil kembali” kebebasan saya. Saya akan menyalakan kembali obor saya, walaupun untuk itu saya harus berpindah playground dan berkolaborasi dengan players baru.

So … Grandpa Pasteur … Indonesia will be proud of my torch someday 🙂

"It will come to you, this love of the land." (Scarlett O'Hara's father when Scarlett said she did not care about the family legacy - in my favorite movie Gone with the Wind)

“It will come to you, this love of the land.” (Scarlett O’Hara’s father when Scarlett said she did not care about the family legacy – in my favorite movie Gone with the Wind)

Iklan

Changing Lives – A Small Note on May 2013 Graduation Day

•Juni 1, 2013 • 4 Komentar
IMG_9052

Transfer to Transform guest lecture by Ibu Nining (alumnus of 1975 class)

*This note was supposed to be uploaded on May 21, 2013 to be dedicated for my former students who are graduated on that day. However, the office works had carried me through the days and made me forget about the unfinished note, until I found it today on my crowded desktop. Well … these students were so special for me because they gave me a truly deep meaning on my profession, although they might never realize how much they had changed my perspective on “teaching”. They even reshaped my definition of “success”. So, students … ups … graduates … this note is my way of saying “thank you so much”*

Hundreds of my former students had graduated since my first official day of teaching as an inexperienced and nervous assistant lecturer in February 1996. And since then I always try my best to attend the graduation ceremonies although my (hyper)activities sometimes make me miss the special event. I enjoyed the radiant happiness of my former students (and of course their parents too) that they finally got rid of the magnificent Perry’s Chemical Engineers’ Handbook and pages of computer codes (and countless cups of coffee) just to calculate how many stages needed to separate ethanol from water.

But moreover, to be invited to such event is an honor for me because it is like being given an opportunity to accompany these young engineers towards their doors to success. It is also a kind of happiness for me to be a teeny tiny part of their historical moment. Perhaps teachers should not claim their students’ success as theirs too … so is it inappropriate if I feel proud of my students’ achievement much more than my pride of my own achievement … ?

IMG_9015

Optimistic face of Class 2012 (orientation week 2012)

I was often so lucky to be assigned smart (some of them were even close to genius) students to be advised, either as the academic advisor, research advisor, plant design advisor, or internship advisor. Because, of course, even without I am doing anything significant, they have finished all assignments impressively. These gifted students are truly blessing for me because I am just like a “free rider” to claim a victory at the end when they present their work in front of the impressed audience.

Success2

Can studying chemical engineering be enjoyable experience?

But it is not about the brilliant ones that I would like to share in this note. I am talking about the students who cannot easily digest what their lecturer says so that they play games on their cell phone during classes, who are more than often getting embarrassing scores on their exam papers, who are coming late to early classes just because they watched football all night long, who are too tired of their problems at home so that they copied homework from their classmates … These are the students who are considered as “irregularities” among the pool of excellent classmates in a high profile discipline, such as chemical engineering department. The system never pays attention to them as a “specialty”. No alternative routes are provided to help them survive. They have to go through the same steep path that their genius friends easily climb, in which they are left behind, struggling alone to catch up. They are easily labeled as lazy and incompetent. They are invisible among a society that is always so hungry to pursue excellence.  However, they exist. The most painful fact is that they become visible to the system when their time is up and they only have two choices: “work hard” to graduate (which is almost impossible), or withdraw themselves in order to maintain the excellence of the system. It is like having dust on the screen of our expensive laptop. At first we ignore it, but eventually we wipe it clean because too much dust is so disturbing especially on a sophisticated looking laptop.

Success1

Outdoor class of Success Skill 2012

I have to admit that advising these unique students is never easy. For example, one of them seemed so scared whenever he had to see me as his academic advisor. The maximum length of his sentence was only about 5-7 words, “Mam, can I have your signature?” . And silence. His head down, playing with his hands without daring looking into my eyes. He answered my questions as shortly as possible and run out of my office, leaving me confused. What’s wrong with him? Back then I was still so immature as a lecturer that I do not know how to melt such a “terrifying situation”. But when his GPA was “free-falling” to a horrible level (which is just a little bit above ONE), then I decided I had to break the ice between us. At first he was stuttering when he start talking with sentences longer than 7 words. But I was listening. I am waiting until he could finally finish his story and suddenly it was clear what his problem was. It took about 6 months of intensive communication before I finally earned his trust so that we could work together to solve his academic problems. His GPA was climbing up from “almost 1” to “almost cum laude” when he graduated. It was one of my biggest happiness when he visited me at home after his graduation, just to say “thank you”. A moment like this is truly worthy my happy tears!

He is just one of my former students who graduated with impressive GPA. He is now a process engineer in a prominent company, which is also not really a special achievement because many of my former students have also placed themselves on very highly paid jobs. For the students, of course it is the finish line that matters the most. Education is an investment for them, and graduation, followed by the first job, is the point where their investment starts paying them back. But for a teacher, and an education institution, the success of educating their students CANNOT simply be measured at the finish line because at that point you cannot clearly distinguish between LUCK and EFFORT. We should measure it based on the CHANGE that we can induce to our students. So we have to measure the difference each student can make between his/her start line and his/her finish line.

Education is NOT a business of service, so we cannot measure the success solely based on the visible key performance indicators such as number of graduates, GPA, waiting time for first jobs, etc which are all measure at the END. Those numbers can be misleading because we tend to easily blame the “raw materials” if we get some “off-spec products”. Education is about TRANSFORMING human beings. Transformation is measured by the “delta” (difference), not by the end point, especially then we define graduation as the end point. If a system works as excellently as it claims itself, it will give the same transformation to each individual, regardless the variation at the starting point. That is why, when finally I can witness those struggling students graduate, I perceive it as a special moment. It is a celebration of a very big transformation. It is a big success.

Education without a passion to transform is just an ordinary service business without a soul. Everyone in the system is then just a machine. A machine can never evaluate itself. It just depends on instructions, manuals, and procedures without personal interactions. I am worried that this is what happened in Indonesian education system, including the institution to which I dedicate myself.

No one will deny my department’s excellent reputation. We owe that to our founding fathers, my seniors, and all stakeholders. Even I myself also contribute a lot in polishing the already shiny reputation. Almost 10 years now that I am involved in putting brick by brick of that reputation and I am so proud of what I have been contributing. Until this graduation day on May 21, 2013. As I watched my former students beaming faces while they were receiving the graduation trophy, their struggles flashed back in my mind. Years full of struggling and tears (seriously, my office’s wall is the witness). Suddenly I realized something.

All admitted students in Chemical Engineering Department UGM are the best of their generation. This is one of the most wanted departments, with very high cutting score on entrance test. If you can get into this student list, then no doubt, you are extraordinary. Then why do I have to witness these struggles???

IMG_9032

Real challenge: transforming these ones into great chemical engineers *need much more than a sacred curriculum*

Our vision is to produce high quality chemical engineers. We refer to international standards for that “quality”. This is a standard that cannot be negotiated. Chemical engineers deal with very high risks in their jobs, so standard cannot be lowered at all. However, have we designed an ideal education system to TRANSFORM the admitted 17-18 years old high school graduates to be the top chemical engineers that we stated in our mission? This might give you clearer picture: from cute boys/girls into tough chemical engineers. That’s really a VERY BIG leap for everyone. Do we realize that? Do we realize that university entrance test only measure the BRAIN CAPACITY but it does NOT measure the MENTAL TOUGHNESS? What if we admit students who are basically smart but they have not been tough enough to face the “hard science” of engineering?

It might be easier to describe it in an analogy: climbing Merapi Mount. We agree that the end point should be the highest peak of that grand famous mount. There are MANY POSSIBLE ways to get to the peak. My department chose one path. This path was chosen by the best climbers, with super extraordinary skills, including vertical climbing. So these super climbers chose the SHORTEST path, they do not really care that it is impossibly STEEP, with almost 90 degree slope. For them, with their vertical climbing skill, it does not really matter. Now the path is ready. We admit all top climbers. The admitted climbers are at first so excited to be given an opportunity to try the famous climbing path but soon they run out of their energy just because the path is WAY TOO steep. Some climbers are blessed with the strong heart so that they do not easily give up. Some take extra lessons to acquire the rare skills for vertical climbing. Some open new routes by themselves, that although take longer but much less steep so that they can run their way up without the necessity for vertical climbing. Of course they will need extra TIME. With only 10 % survive the STEEP path, 80% create the longer path and hence take more time, and the rest 10% just give up on the steep path and do not know how to create the path for their situation … what do we say about the situation?? I never heard a word about the path that MIGHT BE TOO STEEP. All arguments are always about the climbers. They are lazy. They are not serious. They are wrong. We are right.

Let’s look at our curriculum and our delivery methods to achieve the target of that “sacred” curriculum. How many paths have we provided for the variety of our students? Only one? Or two … but the other one is offered TOO LATE, when the students have lost their hope? So? Will it be always the way we EDUCATE people? Forcing everyone into impossibility. Loosing empathy on iregularities. For the sake of excellence. An excellence without soul ….

Well … rich person can never understand the meaning of poverty because they never live with poor people. Smart people can never understand the struggle of “normal” people if they only JUDGE the end result and never really “accompany” the struggle. That’s the biggest challenge for the greatness of my institution: will UGM be the JUDGE of its students’ achievement as good or bad, right or wrong? Or it will be the COMPANY of its students towards their paths to success?

So … my former students, thank you for the tears that you bravely shared with me. Your pains open a new horizon for me.

IMG_4799

The pride of UGM lays on how far it can transform its students to carry its vision far into the future for the greatness of Indonesia and the betterment of humanity (KKN PPM Samigaluh 2012)

Perempuan-perempuan tanpa “high heels”

•Februari 27, 2013 • Tinggalkan sebuah Komentar
Saya punya cukup banyak koleksi high heels, tapi favorit saya adalah si trepes ini. Sepatu ini sudah menemani saya ke desa-desa berlumpur dan beberapa kali kejeblos di kotoran sapi.

Saya punya cukup banyak koleksi high heels, tapi favorit saya adalah si trepes ini. Sepatu ini sudah menemani saya ke desa-desa berlumpur dan beberapa kali kejeblos di kotoran sapi.

Saya selalu mengagumi perempuan-perempuan yang pinter dandan dan selalu tampil elegan dalam berbagai kesempatan. Saya sendiri sudah berusaha sekuat tenaga tetapi hasilnya gagal total. Lipstik, eyeshadow, dan blush on yang di wajah perempuan-perempuan cantik betul-betul menjadi “make up” (membuat kecantikan mereka semakin menonjol), bisa jadi beda sekali efeknya di wajah saya. Seorang teman terang-terangan mengatakan wajah saya tampak seperti penyihir jahat di Opera Bobo dengan make-up yang dipulaskan oleh tim artistik sebuah perusahaan kosmetik sangat terkenal. Secara implisit, teman saya itu bilang, “Percuma aja loe didandanin pakai kosmetik mahal oleh ahlinya pula”. Jadi ya akhirnya saya selalu tampil tanpa make-up, daripada malah keburukan saya yang jadi menonjol.

Anak saya lebih pinter dandan daripada saya

Anak saya lebih pinter dandan daripada saya

Bagaimanapun, saya ini perempuan normal yang ingin tampil menarik. Karena orang yang paling berhak untuk merasa tertarik pada saya adalah suami saya, maka saya mengkonsultasikan masalah besar saya ini pada dia. Dia sangat setuju dengan komentar teman saya itu, bahwa saya tidak compatible dengan make up. Tapi dia menyampaikannya dengan bahasa yang sangat halus: “Kamu gak usah pakai make up, kulit mukamu udah seger tanpa make up“. Tidak sia-sia dia sering nonton acara Mario Teguh, bahasanya semanis madu sekarang. OK, semua gratisan kosmetik dari perusahaan yang mensponsori riset saya itu saya hibahkan ke saudara-saudara saya. Trus suami saya bilang, “Masalahmu itu gaya jalanmu”. Hah? Emang kenapa?? Kata beliau dengan nada prihatin, “Kamu itu kalau jalan kayak mau nantang berkelahi”. Maksudnye? “Langkahmu itu terlalu lebar, speed-nya terlalu cepet, plus wajah galakmu itu … wah … preman-preman pasar wae pasti dho mlayu nek kowe teka“. Lebih lanjut lagi menurut suami saya, kalau cewek pakai sepatu high heels, maka otomatis dia akan menyesuaikan gaya jalannya, jadi lebih anggun dan “melambai”. Speed juga otomatis berkurang karena high heels mengandung high riskspeeding dengan high heels beresiko terjungkal di trotoar.

Menarik juga mencoba teori suami saya itu. Saya jadi mulai membeli sepatu-sepatu high heels. Memang berat ya penderitaan perempuan untuk tampil cantik. Saya cuma sanggup pakai high heels ke acara-acara formal dan resepsi-resepsi saja. Terutama jika berdampingan dengan suami saya. Ya sekedar supaya dia gak malu, menggandeng “penakluk preman” di depan orang banyak. Dengan saya pakai high heels, saya jadi jalan lebih pelan dan rada “melenggang” feminin. Selebihnya, jika saya pergi sendiri, saya kembali ke gaya ori saya, dengan sepatu trepes atau bahkan sandal jepit jika situasi memungkinkan.

Nah, kali ini saya ingin bercerita tentang tiga perempuan yang juga tidak suka high heels, yang membuat saya kagum. Saya belajar banyak dari mereka tentang makna “kekuatan dalam kelembutan”. Mereka inilah perempuan-perempuan hebat yang merefleksikan inner beauty yang sesungguhnya. Beruntunglah suami dan anak-anak dari ibu-ibu ini, dan juga komunitas di mana mereka berada.

Bu Prapti @ Samigaluh, Kulonprogo, DIY

Bu Prapti @ Samigaluh, Kulonprogo, DIY

Ibu ini adalah salah satu orang yang banyak “mendidik” saya di awal aktivitas saya terjun ke tengah komunitas pedesaan. Nama pop-nya adalah Bu Prapti. Beliau tinggal di lereng pegunungan Menoreh, Kecamatan Samigaluh, Kabupaten Kulonprogo. Sekilas beliau tampak seperti ibu rumah tangga biasa, apalagi kalau sedang menggendong dedaunan untuk pakan kambingnya. Tapi begitu beliau bicara, ide-ide besarnya membuat saya terpukau. Semangat beliau sangat “menular”. Hanya dengan mendengarnya bicara saja, rasanya saya jadi ikut yakin bahwa semua cita-cita bisa kita raih. Beliau bermitra dengan banyak organisasi, LSM maupun kantor pemerintah, untuk mewujudkan keinginan-keinginan komunitasnya. Mulai dari hal sederhana: membuat tungku dapur bersih agar ibu-ibu tidak menghirup udara bercampur jelaga. Lalu dengan tungku yang sudah bagus, beliau menggerakkan industri rumahan untuk membuat gula semut dan produk-produk lain. Tidak terbatas pada wilayah tradisional seorang perempuan di dapur, beliau ikut mendaki perbukitan dan akhirnya berhasil membuat air bersih mengalir dari sumber di puncak bukit ke desa-desa di bawahnya. Dari beliau, saya belajar satu hal terpenting: semangat itu “contagious”. Tak perlu banyak kata-kata, jika kita berani memulai langkah pertama dengan penuh semangat, maka nanti tahu-tahu banyak orang ikut berjalan bersama kita. Begitu ajaran Bu Prapti yang sudah saya buktikan keampuhannya. Yang saya butuhkan hanya SEMANGAT !!!

TA16

Bu Suci Sunaryo @ Pagerwojo, Tulungagung, Jawa Timur

Petualangan saya di Pagerwojo Tulungagung mempertemukan saya dengan perempuan-perempuan “baja” sejati. Salah satunya adalah Ibu Suci Sunaryo. Awalnya saya mengenal beliau hanya sebagai istri Pak Sunaryo, sesepuh di komunitas yang menjadi mitra kami. Kesan saya di awal perkenalan kami adalah: beliau sangat cantik (walaupun tanpa make up sama sekali) dan masakannya luar biasa enak. Kekaguman saya semakin menjadi-jadi setelah melihat gayanya naik motor di jalan naik-turun berkelok-kelok antara Pagerwojo-Tulungagung antar jemput anak semata wayang-nya yang masih TK. Perempuan yang satu ini menyembunyikan nyali besar di balik penampilan lembutnya ! Nyali besarnya ternyata tidak hanya dalam konteks sebagai “ratu jalanan”, tapi dalam bisnis juga. Setelah reaktor biogas kami di desanya memproduksi surplus biogas, beliau menelpon saya, “Bu, pinjami saya modal untuk memulai usaha. Saya yakin bisa untung besar memproduksi makanan dengan bahan bakar biogas”. Pada kesempatan berikutnya saat saya mengunjungi program kami di Tulungagung, beliau menunjukkan kalkulasinya dan dengan yakin mengatakan, “Jika Bu Wi memberi saya pinjaman modal tanpa bunga, saya bisa kembalikan dalam 6 bulan”. Di saat bahkan komunitas bapak-bapak di sana mengajukan permohonan dana yang sifatnya hibah, beliau dengan sangat berani mengajukan skema “pinjaman”. Aturan dari Toyota Foundation tidak mengijinkan saya menggunakan uang program untuk skema pinjaman. Jadi saya gunakan uang pribadi untuk “berbisnis” dengan Bu Suci. Beliau belajar “mengajukan kredit”, saya belajar “invest”.

Bu Khana (kerudung coklat) sedang meyakinkan juri bahwa krupuk susu buatannya adalah yang terbaik

Bu Khana (kerudung coklat) sedang meyakinkan juri bahwa krupuk susu buatannya adalah yang terbaik

Selain Bu Suci, Pagerwojo juga menyimpan mutiara lain. Namanya Bu Khana Rasidi. Sama seperti Bu Suci, saya mengenal Bu Khana melalui suaminya, Pak Rasidi, penyuluh pertanian yang aktif dalam program kami di Tulungagung. Bu Khana adalah perempuan yang cantik juga, dengan gaya dandan yang lebih trendy daripada saya. Tapi yang lebih istimewa dari perempuan satu ini adalah sifat kompetitifnya. Saya mengakui bahwa saya sendiri sangat kompetitif, dan saya tahu tidak mudah menjadi orang kompetitif di tengah budaya yang sering menganggap kompetisi sebagai hal yang “saru” dan merendahkan martabat . Saya saja yang di tengah-tengah komunitas akademik yang memandang diri mereka sebagai “modern” masih sering merasakan cibiran-cibiran pada karakter kompetitif saya itu, yang disamakan dengan “ambisius” (hahaha … asli, malah ada yang bilang saya kapitalis segala). Apalagi Bu Khana, yang dikelilingi masyarakat yang masih tradisional. Tapi dia maju terus. Dia bertekad menjadi yang terbaik, dalam berbagai hal. Saat yang lain mengatakan “Tidak mungkin”, dia bilang “Saya harus bisa”. Dengan sifat keras kepalanya itu, sekarang dia adalah produsen the best krupuk susu di dunia. Dari dia saya belajar untuk “selektif” mendengar komentar pihak lain. Saya belajar dari Bu Khana yang asli Nganjuk ini, bagaimana bisa melaju di tengah kontroversi dengan tetap mempertahankan sense of humor yang tinggi. Saya sudah mulai bisa meniru gaya ceplosan-ceplosan entengnya (walaupun logat Nganjuknya tetap susah ditiru) dan mulai bisa memahami bahwa berat-ringannya hidup itu hanyalah masalah “persepsi” kita saja.

Bibit-bibit perubahan ada di mana-mana. Masalahnya adalah apakah ada yang peduli untuk memupuknya.

Bibit-bibit perubahan ada di mana-mana. Masalahnya adalah apakah ada yang peduli untuk memupuknya.

Kebanyakan orang menuntut perubahan, tapi tidak berani menjadi perubahan itu sendiri. Ketiga ibu yang barusan saya ceritakan itu adalah tokoh-tokoh hebat di mata saya. Mereka tidak pernah mengeluh. Dengan caranya masing-masing, mereka membuat strategi dan menjalankannya tanpa banyak meributkan fasilitas, dukungan stakeholders, dll. Dalam kesenyapan karya mereka, bagi saya, merekalah inspirasi yang sesungguhnya bagi masa depan Indonesia yang lebih baik.

Epilog

Be the change that you wish to see in the world” (Mahatma Gandhi)

Bersampan ke Hulu

•Desember 20, 2012 • 1 Komentar
Sampan-sampan di muara sungai, beranikah mendayung ke hulu? (Pantai Bayah Cikotok, Maret 2011)

Sampan-sampan di muara sungai, beranikah mendayung ke hulu? (Pantai Bayah Cikotok, Maret 2011)

Diskusi dengan seorang teman pada suatu malam, tentang kekecewaannya pada prestasi belajar anaknya, membuat saya merenungkan makna kata “belajar”.

Sebuah peribahasa Cina, salah satu favorit saya, bilang begini, “Belajar itu seperti mendayung sampan ke hulu; jika kita berhenti mendayung maka jadilah kita terbawa arus mundur lagi ke belakang”.

Rasanya peribahasa itu tepat sekali menganalogikan sebuah proses belajar. Saya sangat setuju bahwa proses belajar itu seperti bersampan ke hulu. Tentunya bagi banyak orang, bersampan ke hulu adalah kegiatan yang “absurd”. Ngapain juga repot-repot ??? Tapi bagi sebagian orang, ada alasan yang sangat kuat untuk melakukannya, walaupun sepertinya alasannya pun bisa jadi lebih absurd daripada aktivitasnya, misalnya sekedar karena ingin tahu ada apa sih di hulu sana … ? Bagaimana pun, kita tidak akan tahu kalau tidak nekad bertualang sampai ke sana.

Tanggung jawab orang tua bukan hanya memberikan sampan yang ideal, tapi lebih penting adalah membangun rasa gembira si anak dalam berdayung menuju hulu yang dia sukai (Foto: Kiki di Kid's Fun, tahun 2005)

Tanggung jawab orang tua bukan hanya memberikan sampan yang ideal, tapi lebih penting adalah membangun rasa gembira si anak dalam berdayung menuju hulu yang dia sukai (Foto: Kiki di Kid’s Fun, tahun 2005)

Lebih jauh lagi jika kita bahas faktor apa yang menentukan seseorang berhasil mengayuh sampannya sampai ke hulu atau menyerah di tengah jalan, maka analoginya juga masih pas. Memang betul secanggih apa sampannya akan mempengaruhi seberapa cepat kita sampai ke hulu. Kalau kita beruntung punya sampan yang dilengkapi motor (entah motor dari ortu kita yang alhamdulillah tajir atau motor hasil kita ngutang di sana-sini), maka kita bisa melaju mendahului sampan-sampan yang tenaganya kembang-kempis. Tapi sebetulnya yang paling menentukan adalah seberapa besar keinginan si pendayung sampan untuk bisa sampai ke hulu, karena jika ada keinginan, maka dia akan selalu menemukan cara untuk bersampan ke hulu. Masalah resource hanya membedakan soal nyaman atau tidaknya cara yang ditempuh. Buat orang dengan keinginan sangat besar, ketidaknyamanan bukan masalah. Yang penting nyampai aja!

Well, filsuf Cina memang josssss … pantesan sekarang negaranya meraja lela di semua lini bisnis.

Pasar2

Keberhasilan seseorang dalam “belajar” tergantung pada persepsi orang tersebut tentang sebuah proses “belajar” tersebut. Sangat disayangkan bahwa sekolah, yang merupakan institusi formal untuk belajar, tidak terjangkau oleh semua orang. Lebih sedihnya lagi, sekolah sering justru “membunuh” kebebasan berpikir dengan berbagai “teknik pendidikan” yang sangat dogmatis. Justru di luar dinding sekolah kita bisa belajar berdayung untuk mencari hulu kita (Foto: seorang anak belajar tentang warna dibimbing sang ibu, di Pasar Malam Keliling Sidoarum)

Setiap orang tentu punya pilihan pribadi di mana ingin menambatkan sampannya dan punya gaya masing-masing dalam berdayung. Mendayung solo atau mengajak serombongan besar bersampan bersama. Saya sendiri merasa belum menemukan hulu di sungai yang saya arungi. Beberapa perhentian telah saya lewati, tapi saya masih selalu ingin melanjutkan perjalanan. Dan saya bukan orang yang suka sendirian. Saya suka ngajak-ngajak dalam semua aktivitas saya. Walaupun sering sekali ajakan saya ditolak, mungkin bahkan jadi bahan tertawaan di belakang saya, tapi ada juga yang bersedia menemani perjalanan saya dengan keceriaan yang menjadi semangat bagi saya untuk mendayung lebih kuat lagi.

Sekolah, dan cara pandang kebanyakan orang tentang “sekolah”, rasanya membuat dayung jadi terasa begitu berat. Belajar pun akhirnya jadi beban. Buat orang tua, bebannya bervariasi mulai dari buku yang tiap tahun ganti sehingga buku kakak sudah tak lagi bisa digunakan si adik, baju yang harus seragam, kaki yang harus bersepatu demi standar peradaban, sampai ke masalah menjadi atau mencarikan guru les karena sudah sekolah setahun kok si anak belum bisa menghitung 15 dikurangi 5. Buat si anak, belajar berarti rasa pegal di bahu menggendong buku-buku tebal, kebingungan mendengarkan guru yang seperti tape recorder, hanya menunggu-nunggu kapan pelajaran kosong (dan sering terjadi karena sekarang para guru sibuk mengejar sertifikasi), dan ketegangan karena bentakan ibu dan ayah kalau nilai ulangan tidak sempurna. Sekolah bukan lagi jadi tempat belajar. Sekolah adalah tempat seseorang mencari nilai, urutan ranking, dan ijazah.

Sejak saya pertama kalinya menginjakkan kaki di sebuah institusi formal, waktu itu adalah “taman kanak-kanak”, bisa dibilang bahwa hidup saya selalu tertaut pada “sekolah”. Tapi anehnya, saya justru menemukan orang-orang yang memiliki “true passion” untuk belajar ini di luar dinding-dinding sekolah. Saya sendiri menemukan keasyikan belajar dari sumber-sumber yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Betul juga kata Phil Collins (iya bener, that Phil Collins): “in learning you teach, in teaching you learn”. Saya memang justru mendapat banyak ilmu baru dari para “murid” saya.

Dalam foto-foto di bawah ini, saya tampilkan sebagian dari orang-orang yang (tanpa mereka sadari) ikut mendorong sampan saya ke hulu bahkan di saat saya merasa lelah mendayung … Di tengah-tengah mereka, saya menikmati kebebasan berpikir dan mampu memelihara sebuah mimpi, bahwa kelak keluasan pemikiran bangsa Indonesia akan membawa negeri ini kepada kejayaannya.

Selamat tahun baru, selamat menikmati cara pandang baru tentang “belajar” 🙂

Pak Sus, seorang penyuling atsiri di Samigaluh, berbagi ilmu pada para pemilik kebun cengkeh di Cikotok ... saya nguping :-)(Foto: oleh Daniel Tanto, Cikotok 17 Juli 2012)

Pak Sus, seorang penyuling atsiri di Samigaluh, berbagi ilmu pada para pemilik kebun cengkeh di Cikotok … saya nguping 🙂
(Foto: oleh Daniel Tanto, Cikotok 17 Juli 2012)

Di tengah-tengah kelompok peternak, berbagi idealisme tentang peternakan ramah lingkungan (Foto: by Daniel Tanto, di Majalengka, tahun 2010)

Di tengah-tengah kelompok peternak, berbagi idealisme tentang peternakan ramah lingkungan (Foto: by Daniel Tanto, di Majalengka, tahun 2010)

Pengelolaan sampah di kampung Mergangsan, "Gampang kok Mbak, kalau ada 'untung'-nya ya gak usah dikejar-kejar juga masyarakat mau me-recycle" ...

Pengelolaan sampah di kampung Mergangsan, “Gampang kok Mbak, kalau ada ‘untung’-nya ya gak usah dikejar-kejar juga masyarakat mau me-recycle” …

Jadi mentor di L'Oreal Girls Science Camp ... menikmati kesegaran "scientific ingenuity", seperti oase untuk melarikan diri dari "arogansi ilmiah" yang membosankan :D

Jadi mentor di L’Oreal Girls Science Camp … menikmati kesegaran “scientific ingenuity”, seperti oase untuk melarikan diri dari “arogansi ilmiah” yang membosankan 😀

Terharu melihat dedikasi guru-guru Sekolah Menengah Kejuruan, dan jadi introspeksi: seberapa "fanatik"-nya saya pada mahasiswa-mahasiswa saya, seberapa ingginnya saya melihat mereka jadi juara??? Dengan gaji saya sebagai dosen, yang lebih tinggi daripada gaji guru, apakah saya sudah berbuat sebanyak para guru ini?? ... dalam Lomba Keterampilan Siswa SMK

Terharu melihat dedikasi guru-guru Sekolah Menengah Kejuruan, dan jadi introspeksi: seberapa “fanatik”-nya saya pada mahasiswa-mahasiswa saya, seberapa ingginnya saya melihat mereka jadi juara??? Dengan gaji saya sebagai dosen, yang lebih tinggi daripada gaji guru, apakah saya sudah berbuat sebanyak para guru ini?? … dalam Lomba Keterampilan Siswa SMK

Shalawat-an di Dusun Nglambur, Kecamatan Samigaluh (pukul 23.30 dan dinginnya setengah mati) ... belajar membangun harmoni dalam keberagaman, yang merupakan modal penting leadership

Shalawat-an di Dusun Nglambur, Kecamatan Samigaluh (pukul 23.30 dan dinginnya setengah mati) … belajar membangun harmoni dalam keberagaman, yang merupakan modal penting leadership

Bersama peternak di Dusun Sendang Tulungagung ... *kopinya bikin ketagihan*

Bersama peternak di Dusun Sendang Tulungagung … *kopinya bikin ketagihan*

Diskusi soal genset berbahan bakar biogas ... Daniel di tengah para peternak Desa Samar Tulungagung

Diskusi soal genset berbahan bakar biogas … Daniel di tengah para peternak Desa Samar Tulungagung

Daniel: "Tidak sulit kan Pak?" ... mengajari kelompok peternak di Wonosobo untuk set up genset berbahan bakar biogas

Daniel: “Tidak sulit kan Pak?” … mengajari kelompok peternak di Wonosobo untuk set up genset berbahan bakar biogas

Berbagi tentang pengelolaan limbah cair penyulingan atsiri di Purbalingga ... membawa mahasiswa untuk memahami maknanya "berbagi belajar dan belajar berbagi"

Berbagi tentang pengelolaan limbah cair penyulingan atsiri di Purbalingga … membawa mahasiswa untuk memahami maknanya “berbagi belajar dan belajar berbagi”

Bersama para penyuling atsiri Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh

Bersama para penyuling atsiri Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh

Membangun "community-based virtual market" untuk pelaku IKM ... Daniel mengajari saya caranya bicara dengan "bahasa sederhana" :-)

Membangun “community-based virtual market” untuk pelaku IKM … Daniel mengajari saya caranya bicara dengan “bahasa sederhana” 🙂

Pelatihan produk derivatif dari susu sapi untuk ibu-ibu Desa Samar Tulungagung di Lab Inkubator FTP UGM

Pelatihan produk derivatif dari susu sapi untuk ibu-ibu Desa Samar Tulungagung di Lab Inkubator FTP UGM

Pembekalan KKN untuk mahasiswa Teknik Kimia oleh Mas Imbas ... warna lain dalam sejarah pembelajaran untuk mahasiswa teknik kimia (dan beberapa dosennya yang "kurang kerjaan" untuk mengeksplorasi cara-cara inspirasional untuk membbuat mahasiswa menghayati eksistensinya sebagai calon engsinyur kebanggaan Indonesia)

Pembekalan KKN untuk mahasiswa Teknik Kimia oleh Mas Imbas … warna lain dalam sejarah pembelajaran untuk mahasiswa teknik kimia (dan beberapa dosennya yang “kurang kerjaan” untuk mengeksplorasi cara-cara inspirasional untuk membbuat mahasiswa menghayati eksistensinya sebagai calon engsinyur kebanggaan Indonesia)

Birds of the same feather flock together ... belajar banyak dalam komunitas FWIS L'Oreal-UNESCO

Birds of the same feather flock together … belajar banyak dalam komunitas FWIS L’Oreal-UNESCO

Forum "women in engineering" bersama Schlumberger Foundation di MLC Abu Dhabi ... belajar bagaimana stand out di dunia profesi lelaki (tanpa perlu pakai make up dan rok mini)

Forum “women in engineering” bersama Schlumberger Foundation di MLC Abu Dhabi … belajar bagaimana stand out di dunia profesi lelaki (tanpa perlu pakai make up dan rok mini)

Tempat belajar paling asyik: di tengah para mahasiswa :-)

Tempat belajar paling asyik: di tengah para mahasiswa 🙂

Menyemai Benih Perubahan di Pagerwojo Tulungagung

•November 9, 2012 • 3 Komentar

Tanpa terasa sudah setahun lebih ChAIN Center menjalankan Asian Neighbor Program dari Toyota Foundation di Desa Samar, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung.

Pembangunan fisik adalah bagian tak terpisahkan dari kegiatan pendampingan komunitas. Walaupun demikian, yang penting adalah “jiwa” dari fasilitas-fasilitas fisik tersebut (Foto: pembangunan “dapur umum” berbahan bakar biogas di Desa Samar, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung – Asian Neighbor Program Toyota Foundation 2012)

Setahun adalah waktu yang masih sangat pendek untuk memulai sesuatu yang baru. Sebuah program pendampingan komunitas tidak bisa dianalogikan dengan kegiatan membangun gedung yang langkah demi langkah pengerjaannya sudah bisa diperinci dengan sangat detail di awal program dan pelaksanaannya tinggal mengacu kepada “jadwal” yang sudah ditetapkan.

“My” mushroom soup … resepnya dapat dari koran minggu, tapi improvisasi saya telah membuat sup ini jadi sup versi saya yang cocok dengan selera keluarga saya

Mendampingi komunitas untuk “berubah” itu seperti mencoba sebuah resep baru di Dapur Nyonya Rumah. Mula-mula kita ikuti dengan tertib takaran-takarannya dan urutannya bagaimana berbagai ingredient itu nyemplung ke panci kita. Orang-orang yang sangat adventurous di dapur seperti saya ini pasti punya kesimpulan yang sama: kalau kita “terlalu kaku” mengikuti resep di buku masak, dijamin masakan kita akan terasa “tak berjiwa”. Mungkin indah penampilannya, tapi kalau kita tanya pasangan atau anak kita, “Gimana? Enak?” … mereka akan menjawab, “Hmmmm …” atau “Lumayan … ” … lantas kalau kita bertanya lagi dengan penuh harap, “Nambah ya?” maka suami saya akan tiba-tiba menyatakan sedang diet ketat karena ingin punya perut six-packs dan anak saya tiba-tiba punya banyak PR agar segera bisa melarikan diri dari meja makan.

Ayam dimasak dengan daun mint adalah resep masakan tradisional Thailand. Tapi di tangan saya, ayam-mint jadi bercitarasa Jawa gaya pesisir Pekalongan.

Jadi, kalau saya mencoba sebuah resep masakan baru, yang saya lakukan adalah catat saja ingredient utamanya, sementara untuk jumlah dan cara saya menyemplungkan mereka ke panci tergantung dari improvisasi berdasarkan indra-indra perasa saya. Cicip, adjust, hirup, cicip, adjust, dll. Dengan cara seperti ini, separuh content masakan saya itu adalah perasaan saya. Itulah yang disebut signature dish 🙂 Jika makanan seperti ini saya hidangkan di depan suami dan anak saya, maka tidak perlu tanya-tanya lagi. Barang bukti berupa piring-piring yang segera kosong (dan fakta bahwa saya malah tidak kebagian) sudah bercerita sendiri seberapa tinggi apresiasi mereka pada hasil kerja saya.

Reaktor biogas P3RLEM, kapasitas 50 m3, hasil karya mitra kami Pak Junaedi dari PT. Bionat. Feeding campuran kotoran sapi dan air dengan perbandingan 1:2 sebanyak 1 m3/hari mampu menghasilkan 25 m3 biogas (1 atm, 30 deg C) per hari.

Salah satu perubahan yang sedang diinisiasi di Desa Samar adalah persepsi komunitas tentang “limbah”. Melalui Pusat Pelatihan Ramah Lingkungan dan Energi Mandiri (P3RLEM), dilakukan berbagai program untuk memberikan nilai ekonomi pada limbah. Sebuah reaktor biogas besar sudah dibangun di lokasi P3RLEM dan sudah memproduksi biogas. Biogas ini akan digunakan sebagai bahan bakar untuk pabrik pupuk organik dan sebuah dapur umum.

Tadinya kami berpikir bahwa kunci kesuksesan program nilai ekonomi kotoran sapi terletak pada reaktor biogas, genset listrik, dan pabrik pupuk yang tentunya berkonotasi “lelaki banget” (kunjungan Pak Bupati Tulungagung dan bapak-bapak jajaran Pemda di stan P3RLEM saat pameran di BKPP Tulungagung)

Dapur umum? Ini adalah salah satu improvisasi dalam program yang di awal cerita tadi saya analogikan dengan teknik mencoba resep masakan baru. Awalnya program ChAIN Center di Desa Samar adalah aktivitas-aktivitas yang sangat maskulin: manajemen kotoran sapi, reaktor biogas, pabrik pupuk, generator listrik bahan bakar biogas … Jadi dalam hampir semua pertemuan, saya adalah satu-satunya perempuan karena tentunya asumsi kita hanya bapak-bapak Desa Samar yang relevan dengan program ini. Sampai suatu saat di mana kami mulai berpikir lain …

Awal tahun ini kami membuat lomba produksi biogas dan perawatan reaktor biogas mini (kapasitas 5 m3) yang telah dibangun sebanyak 11 unit di Desa Geger, Kecamatan Sendang, tetangga lokasi dengan Desa Samar. Juaranya mendapatkan genset 1000 W berbahan bakar biogas yang diserahkan dalam sebuah event. Event ini sengaja kami selenggarakan dengan mengundang warga desa, lelaki dan perempuan, sebagai sarana sosialisasi program sekaligus menjajagi seberapa ketertarikan masyarakat. Seminggu setelah upacara penyerahan hadiah ini, para juara yang menerima genset menelpon kami, menceritakan bahwa sejak acara itu, banyak orang yang datang ke rumah mereka untuk melihat bagaimana genset itu bisa menyala dengan bahan bakar biogas. Dan yang di luar dugaan kami, betul-betul surprised, mayoritas orang-orang yang highly curious ini adalah PEREMPUAN. Mereka sampai menempuh perjalanan 40 menit naik motor untuk melihat sendiri di TKP !!!

Kami mulai memandang dari sudut pandang yang berbeda. Ternyata kaum ibu lebih “sensitif” terhadap hal baru. Mereka tidak buru-buru menerima atau menolak. Mereka MENYELIDIKI. Karakter ini sangat pas dengan strategi yang kami jalankan dalam memperkenalkan sebuah pemicu perubahan, entah itu berupa teknologi maupun sistem manajemen. Kami tidak ingin memberi, kami ingin membantu sebuah komunitas untuk “tumbuh”. Persyaratan utama untuk bisa berkembang adalah “curiosity”.

“Kebetulan” saya sendiri adalah perempuan. Saya bisa luwes membuka percakapan dengan gosip terhangat, lalu akhirnya menggiring ibu-ibu dalam diskusi yang sangat hidup tentang bisnis berbasis biogas. Demikianlah, program di Desa Samar mulai “bercabang”, dengan melibatkan kaum bapak dan kaum ibu, masing-masing di jalur yang sesuai dengan peran alamiah mereka dalam komunitas tersebut.

Pada tahap awal, kami menyelenggarakan Training for Trainer untuk ibu-ibu tentang pengolahan produk-produk derivatif susu. Tujuh orang perwakilan dari Desa Samar mengikuti pelatihan di Jurusan Teknik Kimia UGM, bekerja sama dengan Jurusan Pengolahan Hasil Pangan. Selama dua hari mereka belajar membuat kerupuk susu, mengunjungi pabrik rambak, dan mengunjungi warung yang khusus menjual produk-produk susu. Ironis sekali bahwa selama ini mereka hidup dari susu tapi tidak terpikir membuat produk sendiri dari susu. Semua susu yang mereka perah tiap hari disetorkan ke pabrik. Mereka bahkan tidak pernah minum susu! Perjalanan dua hari ke UGM memberikan banyak ide baru tentang susu.

Kunjungan ke pabrik rambak terigu di Klaten

Pelatihan di Laboratorium Inkubator FTP

Acara makan selama training pun dirancang ke tempat-tempat yang inspiratif, misalnya Warung Spesial Susu Segar

Setelah usai dua hari belajar di UGM, ibu-ibu pulang dengan membawa PR: membentuk kelompok produksi untuk membuat resep terbaik dari produk-produk yang telah dipelajari. Produk krupuk susu dari semua kelompok akan dilombakan dan akan ditetapkan 3 pemenang yang akan mendapatkan bantuan modal usaha.

Penjurian krupuk susu produk kelompok-kelompok perempuan Desa Samar di Jurusan Teknik Kimia UGM

Final lomba krupuk susu di Balai Desa Samar

Dalam final lomba susu yang diselenggarakan 3 bulan setelah training di UGM, terdaftar 11 kelompok peserta (dari hanya 6 orang yang mengikuti training di Yogyakarta). Dari satu resep yang diajarkan selama training, di lomba ini muncul kurang-lebih 5 varian resep: krupuk susu gaya klasik, krupuk susu rasa emping, krupuk susu rasa strawberry, keripik pangsit susu, dan kerupuk susu pedas. Tidak semuanya merupakan produk yang akan membuat orang antri-antri belinya. Tapi kita memang belum sampai ke tahapan membuat pembeli ngantri-ngantri. Yang menarik di sini adalah bagaimana sebuah inisiasi bisa berkembang melebihi ekspektasi kita. Mereka bahkan sudah mencoba menjual produknya. Dengan kondisi produksi yang belum optimal, mereka sudah bisa mendapatkan untuk hampir 100%, bahkan ada yang lebih dari 100%.

Kesibukan baru memproduksi krupuk susu di Desa Samar – 4 bulan setelah training di UGM

Mulai dengan tradisional, agar ibu-ibu merasa nyaman dulu dengan cara-cara mereka … baru nanti sedikit demi sedikit diperkenalkan praktek-praktek produksi yang lebih baik

Saat ini ibu-ibu Desa Samar sedang menghitung-hitung bagaimana caranya mereka bisa dapat untung lebih besar. Kita menyebutnya “evaluasi ekonomi” dengan tabel-tabel yang rumit. Mereka mengerjakannya dengan “bumbung susun” dan kalkulator bakul. “Penemuan” mereka adalah kalau bahan bakar bisa gratis dari biogas, keuntungan akan naik 50%.

Alat pertama di dapur umum: kompor dengan bahan bakar biogas. Ibu-ibu sedang membuat daftar alat-alat lain yang diperlukan untuk bisa digunakan bersama-sama dan semuanya dengan biogas sebagai sumber energi

Saya tidak menilai kalkulasi mereka benar atau salah. Yang saya lakukan adalah memberikan modal lagi untuk membuat masing-masing 100 kemasan. Kita akan uji jual di kampus, kali ini dengan instrumen survey dan statistik yang scientific 😉 Saya tanya pada ibu-ibu, “Berani tidak, Bu?” Sebagai jawabannya, 4 kardus besar produk mereka nyampai ke kantor saya.

(Bersambung … masih nunggu dagangannya laku dulu, baru bisa diceritakan hasil statistiknya)

Aplikasi riil konsep eco-efficiency: Project Oven Slondok

•Oktober 18, 2012 • 1 Komentar

Tulisan di bawah ini dibuat untuk konsumsi Regional Center of Excellence Conference di Korea bulan September 2012. Harap maklum baru malas menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia  (bukannya sok keinggris-inggrisan). Kalau ada yang mau bantu menerjemahkan, maturnuwun sanget, nanti saya upload sebagai versi Bahasa Indonesia 🙂 Special appreciation untuk Uzi dan Rifki, dua mahasiswa ujung tombak riset yang mendasari pengembangan teknologi “oven slondok dengan pemanas gas hasil pembakaran dari tungku tradisional”.

Uzi (kiri) dan Rifki (kanan) … dengan kreativitas mereka berdua, membimbing penelitian terasa sangat menyenangkan!

“Sustainable Village”: A Pilot Project for a Socially Constructed Technology as the Foundation of a Sustainable Way of Living in Harmony with Nature

By Wiratni Budhijanto, Moh. Fahrurrozi, and Agus Prasetya

Chemical Engineering Alliance and Innovation Center (ChAIN Center), Chemical Engineering Department, Faculty of Engineering, Gadjah Mada University INDONESIA

Cassava is an important carbohydrate source for Indonesians as an alternative to the rice as the main staple in most areas. The flexibility of cassava to grow well in either fertile or poor soil, with much or less water, makes it second to rice as the main source of carbohydrate. When rice is widely available, various snacks made of cassava also dominate the market due to the relatively cheaper price to be compared to the wheat-based snacks. One of the popular cassava snacks in Yogyakarta area is called “slondok” (Figure 1). Slondok is crispy snacks made of the paste of grated cassava mixed with some spices. The dough is shaped as big rings, dried under the sun, and the fried in hot frying oil. Slondok is usually produced in home industries in very traditional ways with the average production rate of 50 kg cassava per day (about 20 kg of fried slondok per day) per production house. In fact both the availability of the raw materials and the demand are much more than the production capacity. However, the slondok producers are limited by their long drying process that relies on the sun light intensity. In a very sunny day, it takes about 6-7 hours to dry the cassava dough until it is ready for frying. When the days is cloudy, it is impossible to dry the dough in one day and as the result of the prolonged drying period, the dough is often got fermented overnight and the slondok becomes slightly sour. In the worst case, the producers have to throw the dough away when there is no sun for several days during the wet season.

Figure 1. A traditional way of drying slondok under the sunlight

A group of students were assigned to conduct field observations and focus group discussions with the slondok producer community during their compulsory stay in the village (note: Gadjah Mada University includes field work as a mandatory part of the curriculum in all faculties, in which the students have to stay in rural areas for 2 months). After several weeks of survey, the students found some interesting facts in the kitchen of one major slondok producer in the village: 1) the frying process usually takes 5-6 hours to produce about 25 kg of slondok per day, 2) the slondok producers use a traditional stove fueled by woods (Figure 2), 3) the flue gas from the stove is as high as 300oC on average and sometimes even higher, 4) the open pit of the stove makes disturbing ash and carbon in the kitchen air.

Figure 2. The old-fashioned traditional stove in the slondok producers’ kitchen before the introduction of clean kitchen and drying oven technology

The students were then led in a discussion to find a solution for the slondok industry problem. The mind-mapping process is illustrated in Table 1, which in reality was constructed through the group discussion.

Table 1. Illustration of the mind-mapping process

Existing conditions Problems Ideas
Frying process takes 5-6 hours per day Solar-drying takes too much time The hot flue gas can be the good heating medium for a drying oven. It is piped into the oven so that the heat will not cause the discomforting air in the kitchen
Flue gas from stove is 300oC Hot flue gas make the kitchen very hot and uncomfortable
Drying slondok with solar-drying (only abut 35oC) Dirty kitchen affect the women’s health
Open pit stove makes the kitchen dirty

The next step was developing an action plan. More discussions were conducted with the students and the community, supervised by a group of faculty members and coordinated by ChAIN Center. The discussions converged into two engineering solutions:

  1. The community collaborated with a non-governmental organization built a modified traditional stove so designed that there was no more open pits and the flue gas flew in a confined duct into the chimney (Figure 3). The students helped to determine the position of the stove and were involved in the construction process so that they well understood the characteristics of the flue gas.
  2. The student designed the heat integration system between the stove and the oven (Figure 4). They made simulation to determine the optimum position of the inlet and outlet of the heating medium in the drying oven and the temperature distribution as well (Figure 5).

Figure 3. The community built the modified stove with closed duct for the flue gas

Figure 4. The design of the plan to utilize the hot flue gas from the stove as the heating medium in the drying oven

   
(a)    Pressure drop at the inlet pipe into the oven as a function of inlet position/elevation (b)   Temperature distribution in the oven as a function of the flue gas inlet position

Figure 5. Simulation to determine the optimum design of the oven

The design was discussed with the slondok producers and they decided to put the pilot project at the house with the biggest production capacity but everyone else could also use the oven when they need to. So the community was ready to move forward to the construction phase. ChAIN Center helped the community to develop a proposal for funding and finally one program from the Indonesian Directorate general of Higher Education agreed to give the financial support for the pilot project. The construction was started and the oven was installed in the slondok production facility (Figure 6 and Figure 7) by the community and the students.

Figure 6. Construction of the oven

Figure 7. Installation of the oven in the slondok industry

The installed oven had not been perfectly running upon the completion of the installation because it needed to be optimized at the local condition (such as the fluctuating ambient temperature that could be drop about 10oC below the normal average, etc.). Actually this was one of the uniqueness of this program. The community was involved in the optimization process so that they were learning by doing about the principles of pressure drop to force the flue gas flowing into the oven, temperature distributions, the importance of heat insulation, etc.). Another group of students were doing a research for their final project while teaching those engineering principles to the slondok producer (Figure 8 to Figure 10).

Figure 8. A student helped Mr. Rumbiyat (the owner of the slondok production facility) to measure the flue gas temperature

Figure 9. The student measured the temperature of the flue gas

Figure 10. The oven with simple heat insulation made of locally available material

The aforementioned case illustrates how the technology is socially constructed WITHIN a community. It took about one year for the technology development, from the first focus group discussion with the slondok producers until the oven functioned well. Although the process took time and a lot of patience, the slondok producers as the owner of the technology felt comfortable with the new addition in their kitchen and they were more than happy to share the new knowledge to their peers. Without any formal theoretical background, the home industries in the Sustainable Village of Sidoharjo have practiced the sustainable production system by saving energy, reducing pollution, and improving their productivity.

2.4. What the Students Learn

During their work with the community in the Sustainable Village of Sidoharjo, the students learned many things by doing and applying the principles that they so far just read in the textbooks, such as:

  1. The concept of sustainable development can be generalized by definition. However, when it comes to the implementation, the interpretation of each aspect of the sustainable development needs to be “domesticated” within the community. The students learn how to adjust the technology to the needs of the community and NOT the other way around. The students learn about the flexibility of technology once they understand the underlying principles of the technology. This practice can enhance the students’ creativity so that as professional engineers in the future they will not depend on ready-to-use technology but they can develop their versions of technology.
  2. The students learn to respect the harmony with nature. The community in the Sustainable Village of Sidoharjo does not only take the knowledge brought by the students but they also exemplify the natural way of living. The students learn how to carefully construct the technology without destructing the synchronous lives of all elements in the ecosystem. This experience is very important for these future engineers to be careful in their future careers not to sacrifice the ecosystem for the sake of technology advancement in the name of efficiency and productivity.
  3. The students learn to work under so many limitations in the village, from the budget to the human resources. While they can survive under such a difficult situation, they will be able to excel in a much more ideal situation in their future profession.

2.5. How the Community Learns

The interactions with the students have brought a new dimension to the village’s routines. The new ideas brought by the students open a new horizon to improve the village productivity. The community is involved in the development of the technology, including the failures at the initial phase, so that they understand the details of the technology.  With the students accompanying the community to study the technology, the process of “domesticating” the technology proceeds smoothly and the community eagerly takes it as an integrated part of their way of living.

KLASTER PABRIK MINI HEMAT ENERGI DAN TANPA LIMBAH: Pengembangan Industri Kecil/Menengah Lestari dan Mandiri bersama Komunitas Pedesaan

•Agustus 11, 2012 • 4 Komentar

 

Menanam harapan di pedesaan

 

Desa Indonesia

Menurut publikasi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM-Mandiri) di www.pnpm-mandiri.org sampai tahun 2007, penduduk miskin di Indonesia masih tercatat berjumlah 37.2 juta jiwa. Sebanyak 63.4% dari jumlah penduduk miskin tersebut berada di pedesaan dengan mata pencaharian utama di sektor pertanian dan 80% menjalankan usaha mikro. Kepemilikan lahan golongan ini rata-rata kurang dari 0.3 hektar per kepala keluarga.

Untuk sebuah komunitas yang secara kultural menggantungkan hidupnya pada lahan pertanian, kepemilikan lahan di bawah 2 hektar sangat tidak mencukupi untuk bisa mengangkat taraf hidup mereka ke tingkat yang lebih layak. Selain masalah kepemilikan lahan yang terus menyempit, permasalahan mendasar yang dihadapi petani adalah minimnya akses kepada sumber pemodalan, teknologi, pasar, dan struktur kelembagaan yang dapat memperjuangkan kepentingan petani.

Seberapa tinggi mereka berani bercita-cita jika definisi masa depan yang mereka tahu adalah “besok pagi makan apa” … (di sebuah desa yang kering di musim kemarau panjang)

Tingginya angka kemiskinan di pedesaan merupakan indikasi ketimpangan dalam strategi pembangunan di Indonesia. Investasi sangat besar di sektor industri yang telah menjadikan sekelumit wilayah Indonesia sebagai kota-kota kosmopolitan ternyata belum banyak berpengaruh positif pada taraf hidup rakyat di pedesaan. Pemerintah terutama melalui Kementerian Pertanian dan kementerian-kementerian terkait sebetulnya sudah memiliki berbagai program dalam usaha membangun pedesaan. Walaupun demikian, diperlukan dukungan semua entitas bangsa ini, termasuk universitas, untuk bisa menyukseskan program-program yang sudah direncanakan dengan sangat baik ini agar bisa terlaksana dengan sama baiknya.

Dikotomi High Tech” dan “Low Tech

Ketimpangan desa-kota tidak hanya terasa di sektor permodalan. Dalam bidang penguasaan teknologi pun, desa justru dikonotasikan sebagai tempat di mana teknologi tidak diperlukan, sementara perkembangan teknologi selalu diasosiasikan dengan gaya hidup modern di perkotaan. Padahal, yang dibanggakan sebagai “high tech” itu saat ini kebanyakan hanya mengadopsi teknologi yang dikembangkan di negara lain, dalam konteks sosial yang sudah pasti sangat berbeda dengan Indonesia. Di lain pihak, semua orang yang mempelajari teknologi semestinya sangat memahami bahwa dalam berbagai keterbatasan, seperti yang dihadapi masyarakat pedesaan, di situlah justru sangat diperlukan teknologi untuk mengoptimalkan berbagai sumber daya yang ada. Masyarakat pedesaan adalah masyarakat yang sangat berakar pada tradisi dengan kepribadian yang lebih kompleks daripada masyarakat perkotaan yang cenderung sangat mudah meniru dan membeli demi gaya hidup modern. Oleh karena itu, memperkenalkan teknologi yang sesuai untuk komunitas pedesaan adalah tantangan yang tidak mudah.

Hal yang membuat saya bangga sebagai dosen UGM adalah konsistensi UGM dalam visi kerakyatan

Ironisnya, bahkan di universitas, yang dipandang sebagai pusat kebijaksanaan dan pemikiran ilmiah, teknologi dikotak-kotakkan sebagai high tech dan low tech (walaupun sering diperhalus dengan istilah “teknologi tepat guna”). Teknologi adalah segala daya upaya manusia agar dapat memecahkan problem-problem dengan lebih mudah. Jadi teknologi tidak perlu dilabeli sebagai “high tech” dan “low tech” karena nilai suatu teknologi tergantung pada kemanfaatannya, dan bukan tingkat kesulitannya.

Secara konvensional, pendidikan tinggi keteknikan selalu diasosiasikan dengan teknologi yang dilabeli sebagai “high tech”. Kurikulum dan visi pengembangannya pun kemudian dirancang mengikuti negara-negara maju di mana teknologi “high tech” itu pertama kali dikembangkan. Oleh karena itu, kontribusi fakultas teknik di sektor pertanian pun menjadi minimal, karena acuan yang digunakan adalah negara-negara industri di mana pertanian tidak menjadi primadona karena keterbatasan lahan, keterbatasan iklim empat musim, dsb. Tentu menjadi ironis di Indonesia yang justru memiliki hal-hal tersebut, riset-riset teknik ternyata tidak berkontribusi secara nyata dalam bidang pengembangan sektor pertanian. Tanpa bermaksud mengatakan yang satu lebih baik daripada yang lain, seyogyanya institusi-institusi pendidikan teknik mulai memberikan perhatian pada berbagai masalah yang memerlukan sentuhan teknologi, baik di desa maupun di kawasan industri besar, dengan seimbang tanpa perlu melabeli teknologi tersebut sebagai “high tech” atau “low tech”.

Nisa (mahasiswi Teknik Kimia UGM angkatan 2009) membantu Pak Rumbiyat pengusaha slondok di Madigondo Samigaluh mengukur suhu flue gas dari tungku penggorengan slondok (project oven pengering slondok)

Oven pengering slondok dengan memanfaatkan flue gas tungku penggorengan slondok sebagai media pemanas. Berhasil mencapai suhu stabil 40-45 deg C dan memperpendek waktu pengeringan slondok hingga separuh waktu pengeringan matahari. Sekarang masih dalam tahapan optimasi. Kelak hujan juga gak ngaruuuuh buat sentra industri slondok (pilot project di Dusun Madigondo, Desa Sidoharjo, Kecamatan Samigaluh Kulonprogo)

Social Construction of Technology

Paham yang dianut oleh kebanyakan teknokrat adalah keyakinan bahwa “teknologi akan mendorong terjadinya perubahan sosial dalam masyarakat”. Banyak kasus yang telah membuktikan kebenaran keyakinan ini, namun pertanyaannya adalah: perubahan seperti apa? Orang awam pun akan dengan mudah melihat bahwa sepanjang sejarah kemerdekaan Indonesia, teknologi telah mengubah predikat bangsa kita dari yang tadinya masyarakat agraris menjadi masyarakat konsumen/pengguna teknologi. Harus kita akui bahwa bangsa Indonesia masih cukup jauh dari status sebagai bangsa produsen.

Menjelaskan cara kerja generator listrik bahan bakar bensin yang dimodifikasi untuk bisa menggunakan bahan bakar biogas kepada para peternak (Desa Samar Tulungagung)

Observasi hal serupa di banyak negara melahirkan pandangan baru tentang teknologi, yaitu pentingnya konteks sosial di samping aspek-aspek teknis dari teknologi tersebut. Pandangan yang dikenal sebagai teori social construction of technology (SCOT) ini memandang teknologi justru sebagai PRODUK dari perubahan-perubahan yang terjadi dalam sebuah masyarakat. Oleh karena itu, idealnya teknologi bukan ditransfer atau dibeli tetapi DIBENTUK dalam komunitas yang kelak akan mempergunakannya. Kalaupun teknologi tersebut berasal dari luar, maka perlu proses “domestikasi” teknologi tersebut sampai masyarakat penggunanya bisa menerimanya sebagai bagian integral dari budayanya dan selanjutnya mampu berinovasi sendiri mengembangkan teknologi tersebut.

Training for Trainers ibu-ibu Desa Samar Tulungagung untuk persiapan pabrik mini produk derivatif susu sapi di Lab Inkubasi Fakultas Teknologi Pertanian UGM

Grup Riset SAINS UNTUK RAKYAT

Grup ini diawali dari sekelompok dosen di Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada yang memiliki idealisme di luar jalur konvensional profesi teknik kimia dalam sektor industri kimia. Grup ini berkonsentrasi melakukan riset-riset yang berorientasi pada paket teknologi yang sesuai untuk komunitas-komunitas tertentu dengan mempertimbangkan karakter-karakter kultural dari komunitas tersebut. Misi dari grup ini adalah memperkenalkan konsep-konsep engineering dalam pengembangan industri kecil di pedesaan melalui penerapan filosofi eco-efficiency, yaitu penghematan bahan baku, penghematan energi, minimalisasi dampak lingkungan, dan jaminan kualitas produk. Misi ini direalisasikan melalui pembangunan pabrik-pabrik mini di berbagai komunitas pedesaan bersama kelompok-kelompok tani/ternak dan koperasi.

Road map Sains untuk Rakyat … spesial dikemas untuk Indonesia!

Konsep Pabrik Mini Hemat Energi dan Tanpa Limbah

“Pabrik Mini” adalah pabrik yang dirancang dengan penentuan kapasitas yang didasarkan pada pertimbangan: 1. Kapasitas minimum yang masih profitable, 2. Kemampuan lembaga-lembaga keuangan lokal untuk mengelola investasinya, dan 3. Kemampuan komunitas untuk menjalankan dan mengembangkan. Tidak mudah untuk merancang pabrik profitable dengan skala kecil. Oleh karena itu, pabrik ini tidak bisa berdiri sendiri, tetapi harus terkoneksi dengan pabrik-pabrik mini dalam suatu klaster, untuk berbagi sumber energi, berbagi bahan baku, atau saling memanfaatkan limbah sebagai bahan baku, berbagi biaya transportasi/distribusi, dan bersama-sama menanggung biaya manajemen, promosi, dan pengembangan jaringan.

Aspek sosial yang akan dibangun bersama dengan klaster pabrik mini ini adalah membangun “kelokalan” suatu produk. Banyak biaya yang bisa dipangkas jika produk pabrik hanya dikonsentrasikan untuk memenuhi kebutuhan lokal, misalnya satu kabupaten. Contohnya adalah pupuk. Saat ini, produksi pupuk sintetis dilakukan oleh industri-industri besar dan distribusinya dikelola pemerintah secara nasional. Biaya pupuk yang tinggi tidak bisa membuat petani menaikkan harga jual gabahnya karena lagi-lagi distribusi gabah diatur di level nasional. Dengan demikian, dari segala arah petani adalah korban. Pabrik mini pupuk organik bisa menjadi solusi untuk masalah petani. Pupuk bisa beli di desa tetangga, bahkan pupuk bisa dibayar dengan sistem barter dengan hasil panen misalnya. Banyak biaya yang tadinya semua harus ditanggung oleh petani jadi terdistribusi dengan lebih merata dalam kelokalan kabupaten sehingga tidak lagi terasa memberatkan.

Ingredient lokal untuk pupuk lokal (percobaan perbanyakan azolla sebagai pengayaan unsur hara dalam pupuk organik granul dari lumpur reaktor biogas)

Eksperimen granulasi pupuk organik Triple-S (Site Specific and Slow Released) dari lumpur reaktor biogas untuk data perancangan pabrik mini di Tulungagung

Pilot Project di Desa Samar, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung

Sedang dibangun di Desa Samar Kecamatan Pagerwojo Tulungagung: Pusat Pelatihan Peternakan Ramah Lingkungan dan Energi Mandiri (P3RLEM) yang dikelola koperasi peternak dan koperasi perempuan

Salah satu percontohan pabrik mini ini adalah usaha pengelolaan limbah peternakan sebagai upaya konservasi sumber daya air melalui pengembangan usaha produktif pengolahan limbah untuk membangun komunitas mandiri pangan dan energi. Pilot project ini dilaksanakan di desa peternak sapi perah di Tulungagung Jawa Timur. Masyarakat di sana belum mengoptimalkan pemanfaatan kotoran sapi yang jumlahnya ribuan ekor dalam satu desa. Pada umumnya kotoran sapi dan susu tolakan pabrik hanya dibuang ke sungai-sungai yang melalui desa-desa tersebut. Setelah proses sosialisasi yang cukup lama, disepakati untuk membangun reaktor biogas untuk mengolah kotoran sapi menjadi biogas dan mengelola lumpur yang keluar dari reaktor menjadi pupuk organik di Desa Samar, Kecamatan Pagerwaja, Kabupaten Tulungagung. Selain itu, dengan energi gratis dari biogas, akan dikembangkan pula industri kecil pengolahan produk derivatif dari susu sapi yang tidak diterima pabrik. Untuk pengembangan kelembagaan yang lebih kuat, program ini melibatkan dua koperasi yang akan dibina menjadi percontohan kekuatan ekonomi berbasis komunitas, yaitu Koperasi Usaha Tani dan Ternak Wahyu Mulia dan Koperasi Perempuan Peternak Sari Jaya.

Penutup: Berbagi Ambisi Menciptakan Indonesia yang Inovatif

Pengalaman berinteraksi dengan masyarakat pedesaan sejak tahun 2006 memberikan satu pelajaran berharga bahwa teknologi memiliki banyak dimensi yang tidak dibahas di buku-buku teks teknik dan karenanya tidak diajarkan kepada para mahasiswa teknik. Salah satu dimensi tersebut adalah dimensi sosial. Dalam konteks keberlanjutan dari kemanfaatan suatu teknologi seoptimal mungkin dan keberlanjutan daya dukung lingkungan, aspek sosial tersebut justru merupakan kunci yang sangat penting. Spesialisasi memang penting untuk membangun karakter profesionalisme, tetapi pengkotak-kotakan antara “teknik” dan “sosial” perlu mulai dijembatani oleh universitas, demi terciptanya bangsa Indonesia yang mampu memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pasar dan bukannya hanya menjadi pasar bagi teknologi milik bangsa lain.

UGM membuka pintu lebar-lebar untuk siapa pun yang berminat belajar (Koperasi Wahyu Mulia dan Koperasi Perempuan Sari Jaya di lobby Teknik Kimia UGM dalam rangka training for trainer untuk persiapan produksi rambak susu )